Monday, January 2, 2017

Sebuah Refleksi dari Uang Baru Pecahan 10 ribu Rupiah


Bank Indonesia baru-baru ini mengeluarkan pecahan uang kertas dan logam baru nominal Rp. 100.000 hingga Rp. 100, dalam pecahan uang baru tersebut  gambar depan uang akan dihiasi oleh figur pahlawan yang semuanya baru diluncurkan kecuali pecahan uang Rp. 100.000 yang tetap dihiasi oleh Sukarno-Hatta. Figur pahlawan yang terdapat di dalam uang baru ini merupakan representasi dari wilayah Indonesia yang tersebar darii Sabang sampai Merauke. Dalam pecahan uang baru ini pahlawan nasional yang berasal dari Papua akan menghiasi uang nominal Rp. 10.000, pahlawan tersebut bernama Frans Kaisiepo.

Frans Kaisiepo lahir di Biak pada tanggal 10 Oktober 1921 dan ketika Papua masih berada dibawah cengkeraman Belanda, ia berjuang agar Papua menjadi bagian dari Indonesia. Perjuangan Frans agar tanah kelahirannya menjadi bagian dari Indonesia baru terlaksana setelah dekade 60-an saat Papua yang kemudian dikenal dengan Irian Jaya menjadi Provinsi ke-26 Indonesia. Frans selanjutnya menjabat sebagai Gubernur Irian Jaya tahun 1964-1973 dan sempat pula menjadi anggota MPR RI dan anggota Hakim Tertinggi Dewan pertimbangan Agung. Pada tanggal 10 April 1979, Frans wafat dan dimakamkan di TMP Cenderawasih di kota Jayapura.

Untuk mengenang jasa-jasa Frans Kaisiepo maka pada tanggal 14 September 1993, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional  melalui SK Presiden: Keppres No. 077/TK/1993. Selanjutnya nama Frans diabadikan menjadi nama bandara di tanah kelahirannya Biak yaitu Bandara Frans Kaisiepo, namanya diabadikan pula menjadi nama kapal perang TNI-AL dengan nama KRI Frans Kaisiepo. Selain itu wajah Frans pernah diabadikan pula dalam prangko yang dikeluarkan pada tahun 1999 dan kini untuk pertama kalinya wajah Frans akan menghiasi uang pecahan Rp.10.000 yang telah dikeluarkan pada tahun 2016 ini. Selain Frans Kaisiepo tercatat ada tiga tokoh asal Papua yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional yaitu Silas Papare, Marthen Indey dan Johanes Abraham Dimara. Silas Papare namanya diabadikan menjadi nama kapal perang TNI-AL dengan nama KRI Silas Papare sedangkan Marthen Indey namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit tentara di kota Jayapura yaitu Rumkit Tk II Marthen Indey.

Kemunculan wajah Frans Kaisiepo dalam pecahan uang kertas yang baru ini memang menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan masyarakat bahkan tidak sedikit pula masyarakat yang “membully” sosok pahlawan ini. Dengan munculnya beragam reaksi masyarakat tersebut, sepatutnya kita sebagai warga Negara yang baik harus menghargai setiap jasa para pahlawan yang telah berjuang demi bangsa dan Negara ini. Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke tentu akan diperjuangkan oleh masyarakat yang  berasal dari latar belakang yang berbeda dengan tujuan hanya satu yaitu Indonesia Merdeka. Harus diingat pula bahwa bangsa ini tidak hanya didirikan oleh satu golongan saja tetapi juga oleh berbagai macam golongan, semboyan Negara kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua sudah menjadi refleksi betapa keberagaman di Indonesia harus selalu kita junjung tinggi.

Saya memiliki argumen tersendiri terhadap kemunculan seorang Frans Kaisiepo dalam pecahan uang kertas yang baru ini. Menurut saya dengan adanya pahlawan nasional yang berasal dari Papua menandakan bahwa Papua sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena secara tidak langsung uang tersebut akan digunakan di seluruh wilayah Indonesia, selain itu hal ini tentunya akan semakin membuat masyarakat Papua bangga karena salah satu tokoh masyarakatnya mendapatkan kehormatan muncul dalam pecahan uang kertas yang baru. Terakhir yang bisa saya katakan bahwa  bangsa yang besar ialah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya dan jasa-jasa Frans Kaisiepo pada masa lalu itulah yang sudah sepatutnya harusnya selalu kita kenang.

Friday, December 30, 2016

Piala AFF, Stadion Pakansari & Tangerang

Gelaran Piala AFF 2016 baru saja usai dimana Tim Nasional Thailand keluar sebagai juara setelah mengandaskan perlawanan Tim Nasional Indonesia di partai puncak dengan agregat 3-2. Kemenangan atas Indonesia di partai puncak sekaligus menegaskan dominasi Tim Gajah Putih sebagai raja sepakbola di Asia Tenggara dengan torehan lima gelar dalam kancah Piala AFF. Terlepas dari kemenangan Thailand di partai puncak tentu kita tak boleh lupakan juga bagaimana perjuangan skuad garuda hingga mencapai babak final yang sebetulnya jauh melebihi ekspektasi banyak kalangan mengingat persiapan yang dilakoni oleh skuad garuda yang serba terbatas.

Final kelima bagi Indonesia di kancah Piala AFF tahun ini mungkin terlihat sedikit berbeda terutama penggunaan stadion pada laga final kali ini. Semenjak diperkenalkannya format home and away pada laga final Piala AFF, Indonesia telah dua kali masuk final kejuaraan sepakbola terbesar di Asia Tenggara ini dan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) selalu menjadi pilihan utama. Namun pada laga final tahun ini stadion yang digunakan untuk kandang oleh Tim Nasional Indonesia pada saat melawan Tim Nasional Thailand ialah Stadion Pakansari di Cibinong Kabupaten Bogor, hal ini mengingat SUGBK sedang mengalami proses renovasi dalam persiapan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Pemilihan Stadion ini tentunya menjadi kejutan tersendiri bagi banyak kalangan karena masih banyak stadion lain yang juga memiliki kualitas yang lebih baik. Namun apapun itu Stadion Pakansari telah membuat sejarahnya sendiri sebagai stadion yang pernah menggelar laga final sepakbola terbesar di Asia Tenggara selain Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Laga final yang dilaksanakan di Stadion Pakansari sebetulnya membuat saya sedikit iri karena Bogor sebagai tempat dimana Stadion Pakansari berada mampu menyelenggarakan pertandingan sekelas Piala AFF 2016. Sebagai warga Tangerang saya pun sedikit berandai-andai jika laga final tersebut dilaksanakan di kota ini namun apalah daya stadion di Tangerang jauh dari kata layak untuk menyelenggarakan pertandingan sekelas Piala AFF bahkan satu-satunya stadion di Tangerang yaitu Stadion Benteng kondisinya sangat memprihatinkan.

Pemerintah kabupaten Tangerang sebenarnya sedang membuat stadion di daerah Pagedangan yang nantinya akan digunakan sebagai kandang klub Persita Tangerang namun pengerjaan stadion tersebut hingga saat ini belum juga rampung. Padahal jika stadion ini telah rampung tentunya tidak akan kalah dengan stadion megah lainnya di Indonesia bahkan laga final Piala AFF yang kemarin dilaksanakan di Stadion Pakansari bisa saja dilaksanakan di Stadion ini mengingat lokasinya yang tidak jauh dari tempat latihan Tim Nasional di daerah Karawaci dan tidak jauh pula dari Bandara Sukarno-hatta. Semoga laga final Piala AFF yang dilaksanakan di Stadion Pakansari menjadi pelecut bagi setiap daerah di Indonesia untuk membuat stadion yang bertaraf internasional dan saya berharap Tim Nasional Indonesia pada tahun 2018 nanti kembali masuk final dalam Piala AFF dan laga final dapat diilaksanakan di Tangerang. Semoga...

Friday, February 27, 2015

Wisata Sejarah di Kota Serang


Pengalaman ini mungkin bisa dibilang begitu berharga buat saya, saking berharganya saya sampai ingin mengulanginya lagi. Sebuah kisah perjalanan yang tidak terduga sebelumnya oleh saya sendiri karena kesibukan yang saya jalani saat ini hingga saya pun tak sempat untuk melangkahkan kaki ini kemana pun yang saya inginkan. Saat ini saya menyibukkan diri dengan mengajar di salah satu sekolah di kabupaten Tangerang dan selama satu minggu mengajar tiap hari Kamis saya tidak ada jam mengajar di sekolah, otomatis saya libur di hari tersebut.
Disaat yang bersamaan di hari Kamis bapak saya mengajak diri saya untuk pergi ke kota Serang tepatnya untuk mengantarnya rapat di salah satu hotel yang berada di pusat kota Serang. Gayung bersambut Saya pun langsung mengiyakan ajakan tersebut karena memang belum pernah sekalipun mengunjungi pusat kota Serang tepatnya di alun-alun ibukota provinsi Banten tersebut. Kami berangkat dari Tengerang bersama teman bapak yang juga mengikuti rapat tersebut. Perjalanan dari Tangerang memakan waktu sekitar dua jam melewati jalan tol Jakarta-Merak hinga akhirnya tiba di kota Serang. Karena belum tahu letak hotel tersebut kami sempat menyasar hingga ke kantor gubernur Banten sampai akhirnya tiba di lokasi yang dituju yaitu di jalan Maulana Yusuf.
Memasuki kota Serang pandangan mata saya seperti terhipnotis oleh bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang terdapat di kota tersebut. Bangunan khas kolonial yang saya lihat sepanjang perjalanan adalah Kantor Polres Serang, Wisma TNI AU Detasemen Gorda, Pendopo Kabupaten Serang dan Kantor Gubernur Banten. Namun betapa terkejutnya saya begitu mengetahui hotel yang kami tuju berada di samping persis kantor Korem 064/Maulana Yusuf Serang yang tidak lain juga merupakan bangunan khas kolonial.
Setelah memarkirkan mobil kemudian bapak saya bersama teman-temannya turun dan langsung bergegas mengikuti rapat yang sudah dijadwalkan. Dalam suasana menunggu rapat tersebut saya ditelepon oleh bapak bahwa rapat dilaksanakan hingga sore hari. Pikiran pun berkecamuk dalam benak saya “apa yang harus saya lakukan hingga sore hari nanti??” disaat yang bersamaan pulsa yang saya miliki habis, kemudian saya bertanya kepada security di hotel tersebut dimanakah saya bisa membeli pulsa dan ia pun menunjukkan bahwa tidak jauh dari hotel tersebut ada deretan pertokoan yang berada di jalan Tirtayasa. Setelah mengetahui saya langsung bergegas menuju ke deretan toko tersebut untuk membeli pulsa.
Setelah pulsa didapat saya pun berjalan kembali ke hotel dan menunggu di salah satu kedai kopi di sekitar hotel. Iseng menunggu saya pun teringat bangunan khas kolonial yang tidak jauh dari hotel tersebut yaitu Korem 064/Maulana Yusuf. Saya pun memutuskan untuk berjalan dan melihat bangunan yang menurut saya begitu artistik dari segi arsitekturnya. Tidak jauh dari bangunan korem ada lagi satu bangunan khas kolonial yang kini digunakan sebagai kantor Denpom III/4 Serang, setelah puas melihat dan mengabadikan bangunan tersebut saya pun kembali lagi ke hotel.


Gedung Korem 064/Maulana Yusuf Serang
Suasana hotel tempat bapak rapat memang berada di lokasi yang cukup ramai.Ketika sedang menunggu di hotel tiba-tiba saya mendengar bunyi suara kereta api dan setelah saya bertanya kepada security hotel ternyata ada stasiun kereta api yang tidak jauh dari hotel tersebut. Saya pun tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut dan langsung saja bergegas menuju lokasi yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. Melangkah ke stasiun tersebut saya melewati sebuah keramaian yang menurut penduduk sekitar dinamakan pasar pagi. Selain itu stasiun tersebut tidak begitu jauh lokasinya dari Pusat Kuliner kota Serang, namun jangan harap menemukan aneka macam makanan yang lezat di tempat itu justru kita hanya menemukan aneka penjual batu yang sekarang sedang memang marak di banyak tempat.

Gedung Denpom III/4 Serang
Begitu sampai di pinggir rel kereta api saya langsung melihat deretan bangunan khas kolonial yang berada di sisi rel tersebut. Saya pun menghampiri satu bangunan yang menurut saya adalah stasiun Serang, namun setelah saya bertanya kepada salah satu petugas ternyata itu adalah Kantor Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi) dan stasiun kereta api tidak jauh dari kantor tersebut. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada begitu sampai di kantor Sintel tersebut dan langsung mengambil kamera di handphone saya untuk mengabadikan beberapa bangunan peninggalan Belanda di stasiun tersebut. Saya mendapatkan banyak informasi mengenai fungsi bangunan-bangunan dari petugas sintel tersebut.


Lori yang digunakan untuk meluruskan rel dengan latar belakang tempat pengisian air untuk kereta uap
Setelah pamit saya kemudian melangkahkan kaki menuju stasiun serang yang berjarak tidak jauh dari kantor tersebut. Mungkin karena saya orang jauh dan selalu memfoto apa yang saya lihat masyarakat sekitar pun memandangi saya dengan mimik muka yang bertanya-tanya. Setelah sampai di stasiun saya sudah disambut oleh anak-anak sd yang sedang melakukan study tour di stasiun tersebut. Setelah puas melihat stasiun yang terletak di jalan Kitapa tersebut saya memutuskan untuk kembali ke hotel dan tak lupa mengabadikan bangunan yang juga dijadikan sebagai benda cagar budaya oleh Pemprov Banten. 

Stasiun kereta api Serang
Sekitar jam 11 panggilan hati untuk memberi makan cacing di perut saya pun tak terelakkan lagi, saya pun memutuskan untuk makan di salah satu warteg di perempatan jalan Tirtayasa dan Maulana Yusuf. Setelah selesai makan saya pun pergi ke Masjid Agung Serang untuk sekedar beristirahat dan menunggu waktu shalat dzuhur. Disaat yang bersamaan hujan pun turun dan saya memutuskan untuk menuju hujan reda sambil istirahat dan menunggu bapak saya selesai rapat. Baru sekitar jam 3 sore rapat pun selesai dan bersamaan dengan itu pula saya bersama bapak dan teman-temannya kembali ke Tangerang. Sebuah pengalaman yang mengasyikan bagi saya dan suatu saat saya akan datang kembali menjelajahi kota Serang.


Bangunan peninggalan Belanda di jalan Kitapa

Thursday, February 6, 2014

Keberhasilan WNI Asal Timor-Timur di Indonesia

Timor-Timur memang sudah memisahkan diri dari NKRI pada tahun 1999 setelah sebelumnya diadakan Jajak Pendapat oleh PBB yang dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan. Provinsi ini lebih memilih untuk berpisah setelah berintegrasi dengan NKRI selama 23 tahun. Daerah ini resmi menjadi sebuah Negara yang berdaulat pada tahun 2002 dengan nama Timor Leste. Lepasnya provinsi ke-27  NKRI ini sebenarnya sangat disayangkan karena pengorbanan yang telah dilakukan selama wilayah ini masih bergabung dengan NKRI. Dengan lepasnya wilayah ini menyebabkan banyak eksodus warga Timor-Timur baik pendatang maupun penduduk asli ke wilayah Indonesia terutama ke wilayah Nusa Tenggara Timur. 
Tidak sedikit penduduk asli Timor-Timur yang kemudian tetap menjadi WNI dan tinggal di sekitar wilayah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kini setelah lima belas tahun meninggalkan tanah kelahiran mereka, kehidupan  WNI asal Timor-Timur sebagian besar masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pula yang masih di tinggal di barak-barak pengungsian dengan kondisi sarana dan prasarana yang seadanya. Namun tidak semua kehidupan WNI asal Timor-Timur berada dalam kondisi yang buruk, ada pula WNI asal Timor-Timur yang terbilang cukup sukses di Indonesia. mereka berasal dari berbagai latar belakang mulai dari bidang militer sampai politik.
Berikut ini adalah beberapa WNI asal Timor-Timur yang bisa dikatakan berhasil di dalam berbagai bidang, untuk bidang militer ada tulisan tersendiri yang berjudul "Perwira TNI/POLRI Putra Daerah Timor-Timur".

1. Fransisco Xavier Lopes da Cruz
Saat Timor-Timur masih bergabung dengan Indonesia, ia pernah menjadi Wakil Gubernur Timor-Timur dan juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung dan menjadi Dubes Keliling. Pasca lepasnya Timor-Timur ia selanjutnya ditugaskan sebagai Dubes RI di Yunani dan Portugal.

2. Tito dos Santos Baptista
Pria satu ini berkarir di Kementerian Luar Negeri RI dan pernah menjabat sebagai Konjen RI di Mumbay, India. Kini ia telah menempati posisi barunya sebagai Duta Besar RI untuk Mozambique. Ia merupakan orang Timor-Timur ke-4 yang diangkat menjadi Dubes setelah sebelumnya ada Mario Viegas Carrascalao Dubes RI untuk Rumania, FX Lopes da Cruz Dubes RI untuk Portugal dan Jose Antonio Tavares Dubes RI untuk Selandia Baru dan Samoa.

3. Jose Antonio Morato Tavares
Pria kelahiran Balibo ini merupakan putra dari tokoh Pro Integrasi yaitu Joao Tavares. Ia sendiri berkarir di Kementerian Luar Negeri RI dan pernah menjabat sebagai Direktur Polkam ASEAN Kemlu. Kini ia telah menempati posisi barunya sebagai Duta Besar RI untuk Selandia Baru dan Samoa. Ia merupakan orang Timor-Timur ke-3 yang diangkat menjadi Dubes setelah sebelumnya ada Mario Viegas Carrascalao Dubes RI untuk Rumania dan FX Lopes da Cruz Dubes RI untuk Portugal. Selanjutnya ia kembali bertugas di Kemlu sebagai Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri dan kini ia diagkat menjadi Duta Besar RI untuk Rusia.

4. Carlos de Fatima
Ia merupakan salah satu tokoh Pro Integrasi ketika Timor-Timur masih berintegrasi dengan Indonesia. Ia sendiri merupakan seorang  PNS dan pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Sumba Timur, kini ia menjabat sebagai Asisten Pengawas Kejati Nusa Tenggara Timur.

5. Basilio Araujo
Ia termasuk salah satu tokoh Pro Integrasi yang juga ikut berjuang agar Timor-Timur tetap dalam bingkai NKRI. Ia sendiri menamatkan S2 nya di Inggris dan pasca berpisahnya Timor-Timur ia pernah menempati posisi sebagai Kepala Divisi Kerjasama Organisasi Internasional Kementerian Dalam Negeri RI. Selanjutnya ia pernah bertugas sebagai Asisten Deputi Koordinator Bidang Keamanan dan Ketahanan Maritim Kemenko Maritim RI dan kini ia bertugas sebagai Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Maritim dan Investasi RI.
 
Asisten Deputi Keamanan dan Ketahanan Maritim, Kementerian Koordinator Bidang kemaritiman

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lindungi Nelayan Indonesia dari Perbudakan, Pemerintah Gandeng ILO ", https://money.kompas.com/read/2019/09/28/113400226/lindungi-nelayan-indonesia-dari-perbudakan-pemerintah-gandeng-ilo-.
Penulis : Fika Nurul Ulya
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Asisten Deputi Keamanan dan Ketahanan Maritim, Kementerian Koordinator Bidang kemaritiman

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lindungi Nelayan Indonesia dari Perbudakan, Pemerintah Gandeng ILO ", https://money.kompas.com/read/2019/09/28/113400226/lindungi-nelayan-indonesia-dari-perbudakan-pemerintah-gandeng-ilo-.
Penulis : Fika Nurul Ulya
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

6. Armindo Soares Mariano
Pria kelahiran Viqueque ini adalah salah satu tokoh Pro Integrasi  dan juga tokoh Golkar Timor-Timur yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Tingkat I Timor-Timur terakhir. Setelah menetap di Nusa Tenggara Timur pasca lepasnya Timor-Timur, ia sempat menjadi anggota DPRD NTT dan kini ia menjadi pengurus partai Gerindra Nusa Tenggara Timur.

7. Eurico Gutteres
Salah satu tokoh legendaris Pro Integrasi yang pernah menjabat sebagai wakil komandan PPI ini sudah tidak diragukan lagi kesetiaan terhadap NKRI. Kini setelah lepasnya Timor-Timur ia pun menetap di NTT bersama para WNI asal Tim-Tim lainnya. Ia sempat menjadi Ketua DPD PAN Nusa Tenggara Timur dan kini mencalonkan diri sebagai Caleg DPR RI dari Provinsi NTT serta sempat pula menjadi ketua UNTAS yang merupakan organisasi yang mewadahi masyarakat eks Timor-Timur. Kini ia menjadi ketua umum organisasi Front Pembela Merah Putih. Eurico Gutteres pada tahun 2021 mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Utama yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

8. Florencio Mario Vieira
Tokoh muda kelahiran Lospalos ini tidak diragukan lagi kesetiaannya terhadap NKRI. Anak dari Claudio Vieira yang juga mantan Bupati Lospalos pertama ini kini mencalonkan diri menjadi Caleg DPR RI dari partai Gerindra untuk wilayah Provinsi NTT. kini ia menjadi pengurus partai Gerindra Nusa Tenggara Timur.
 
9. Alfredo do Carmo
Tokoh kelahiran Timor-Timur ini banyak menghabiskan karir di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora ) RI. Beberapa jabatan pernah dipegang diantaranya yaitu Kepala Bidang Olahraga Tradisional Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)  dan Kepala Bidang Pariwisata dan Maritim Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)  dan kini ia bertugas sebagai Kabid Standardisasi pada Badan Standardisasi dan Akreditasi Nasional Keolahragaan.
 
Sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh asal Timor-Timur yang terbilang sukses di Indonesia, namun hanya sebagian saja yang bisa dibagikan kepada para pembaca. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi para pembaca sekalian….

Kunjungan Bersama Siswa ke Bandung

Hari Kamis tanggal 30 Januari 2014 kemarin, saya baru saja melakukan kunjungan ke Universitas Padjadjaran di daerah Jatinangor bersama dengan anak-anak SMA di lembaga bimbingan belajar dimana saya mengajar. Kunjungan semacam ini memang acara tahunan yang biasa dilakukan oleh lembaga Bimbel dimana saya mengajar yaitu Primagama. Acara yang diberi nama “Visiting to University” ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada siswa di lembaga bimbel ini tentang universitas yang dikunjungi. Dalam kunjungan ke Unpad ini kami mengunjungi dua fakultas yaitu F-MIPA dan Fakultas Kedokteran yang letaknya bersebelahan.

Dalam persiapan menuju Bandung ini saya sendiri sampai menginap di Primagama agar tidak telat datang ke lokasi, maklum karena memang rumah saya sedikit di pelosok. Saya menginap dengan Kacab saya yaitu pak iwan di Primagama BSD dari yang awalnya menginap di Primagama Jatiuwung. Saya pun berangkat menggunakan motor ke BSD menggunakan motor pak Iwan Jam setengah empat pagi kami pun berangkat ke lokasi keberangkatan menggunakan mobil menuju Jatiuwung.

Acara kunjungan ini sendiri diikuti oleh beberapa cabang Primagama dari Tangerang dan juga Bekasi. Saya sendiri berasal dari Primagama cabang Sangiang dan Jatiuwung dan diberi tugas untuk mendampingi siswa-siswa dari cabang itu. Kami sendiri berangkat dari tangerang sekitar pukul setengah enam pagi, padahal jadwal keberangkatan kami yang sebenarnya adalah jam lima kurang seperapat. Karena jalan tol di Cipularang amblas maka kami pun disuruh untuk berangkat pagi sekali. Namun sebelum berangkat karena bis yang kami gunakan penuh maka siswa dari sangiang terpaksa dipindahkan ke mobil Primagama dan berangkat dengan kepala cabang kami. Bis yang kami gunakan ternyata digunakan pula oleh siswa dari cabang Pasar Kemis dan Kotabumi dengan pendampingnya yaitu Kang Keni dan Mbak Nisa. Saya sendiri kemudian tetap di bis untuk mendampingi siswa dari Jatiuwung. 

Dalam perjalanan ternyata kami menemui banyak titik kemacetan maklum karena jam-jam seperti  itu adalah jam masuk kerja. Di dalam perjalanan saya sendiri tidak banyak berbicara karena memang masih dalam keadaan mengantuk karena pengaruh semalam bahkan sesekali saya pun tertidur. Begitu memasuki jalan tol Cipularang ternyata bis kami dialihkan menuju cikampek kemudian lanjut ke Sadang. Ternyata di jalur ini macetnya pun padat merayap sehingga kami pun telat sampai di Unpad, padahal kami harus tiba sekitar pukul sepuluh pagi. Namun kami baru tiba sekitar pukul setengah satu siang sehingga kunjungan ke F-MIPA pun tidak kami ikuti.
kami sendiri hanya kebagian melakukan kunjungan di Fakultas Kedokteran saja namun itu tidak mengurangi rasa antusias kami terhadap kunjungan ini. Kami pun mendengar penjelasan tentang FK Unpad dari perwakilan FK tersebut setelah itu kami pun diajak melihat ruang lab dan ruang anatomi. Mendengar penjelasan dari perwakilan FK tersebut saya menilai bahwa FK Unpad adalah salah satu FK terbaik di Indonesia. kunjungan ke FK ini adalah kunjungan terakhir di Unpad karena setelah itu kami pun bersiap untuk pulang.

Sebelum pulang kami berkunjung dulu ke Cihampelas tapi tunggu dulu ini bukan kunjungan ke Universitas seperti tadi melainkan kunjungan ke tempat belanja, hehehe…. Saya pun tidak mau ketinggalan juga  untuk berbelanja seperti anak-anak. Setelah berbelanja sekitar jam enam kami pun pulang kembali ke Tangerang dengan perasaan yang senang tentunya.
Buat saya pribadi acara semacam ini adalah yang pertama saya ikuti, karena memang saya sendiri baru satu bulan mengajar di tempat ini. Jadi baru saja masuk, saya ternyata sudah diajak untuk berpartisipasi dalam acara kunjungan ini dan saya sangat senang sekali tentunya. Terlebih lagi saya pun belum pernah ke Unpad dan jalan-jalan ke kota Bandung jadi. Namun yang paling utama adalah saya bisa sedikit berpartisipasi dalam acara yang dilakukan oleh Primagama ini dimana saya sekarang mengajar di tempat ini.

Monday, January 27, 2014

Dunia Blog


Salam Kenal..!!

Pertama kali terjun di dunia Blog ini, saya sudah menerbitkan satu tulisan saya tentang Perjalanan ke Bojongkokosan di Sukabumi. Namun saya merasa ada yang kurang dalam blog saya ini karena saya belum memperkenalkan diri saya secara lebih lanjut kepada kalian semua, hehehe… (sok penting banget yah). Baiklah sekarang saya akan memperkenalkan diri saya yang sebenarnya.

Nama saya adalah Muhamad Alfian Nugraha Fauzi, nama yang terbilang cukup panjang bahkan teman-teman mengatakan kepada saya “kenapa  namamu panjang? karena kamu lahir di atas kereta api” hehehe… (ada-ada saja mereka), tapi sebenarnya cukup panggil nama saya Alfian saja. Saya lahir di sebuah kota di bagian timur Jawa Barat tepatnya di Tasikmalaya di kampung nenek saya 23 tahun yang lalu. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan semuanya adalah laki-laki.. yah mirip keluarga Ahmad Dhani gitu deh, hehehe.. 

Setelah lahir saya pun dibawa oleh orang tua saya ke Jakarta dan empat bulan kemudian saya dibawa lagi ke kota Dili, Timor-Timur (Sekarang Timor Leste). Disinilah sebenarnya awal dari pengalaman hidup saya yang selalu berpindah-pindah.  Di Timor-Timur saya tinggal selama 10 tahun, tepatnya di wilayah Kampung Alor, Pantai Kelapa dan terakhir di Tasitolu. Saya pun sempat bersekolah hingga kelas 4 SD di SDN 7 Dili (sekarang Escola Primeira no5 Dili) kami sekeluarga meninggalkan Timor-Timur ketika diadakannya Jajak Pendapat yang dimenangkan oleh kelompok pro kemerdekaan. Ada rasa sedih begitu meninggalkan Timor-Timur karena memang sudah terjadi suatu ikatan batin yang begitu kuat dengan daerah ini.

Setelah itu saya bersekolah di Bogor tepatnya di SDN 2 Pabuaran yang berada di kampung bapak saya. Hanya sampai cawu 1 kemudian saya bersekolah lagi di Tangerang  tepatnya di SDN 4 Sarakan. Di Tangerang lah kemudian saya tinggal hingga kini. Ketika masuk SMP saya bersekolah di SMPN 1 Sepatan begitupun ketika SMA saya bersekolah di SMAN 1 Sepatan. Pada tahun 2008 saat lulus SMA saya mengikuti tes Snmptn, ternyata saya pun masuk PTN pilihan saya yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tepatnya di jurusan sejarah. 

Saat kuliah di UNJ untuk pertama kalinya saya harus hidup terpisah dengan orang tua.. biasalah hidup jadi anak kost, hehehe… kost pertama saya dan terakhir letaknya di Pulo Gadung dekat dengan terminal.. jadi pagi kuliah malam jadi anak terminal, hehehe.. kuliah di UNJ berarti saya bertemu dengan teman yang baru pula, jalinan persahabatan pun masih kami jalin hingga kini walaupun saya sudah lulus kuliah. Kemudian diajari oleh dosen-dosen yang mantap pula, hehe.. Intinya.. Selama berkuliah di UNJ ini saya mendapatkan begitu banyak hal yang buat saya pribadi sangat bermanfaat dan juga berkesan, diantaranya dalam hal akademis dan juga persahabatan. Pokoknya pengalaman selama berkuliah di UNJ adalah sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan. Dan kini angin membawa saya untuk menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di daerah Sangiang Tangerang

Itulah sekelumit perkenalan diri saya, sekian dan terima kasih..

Tuesday, January 21, 2014

Perjalanan Tak Sengaja ke Bojong Kokosan

Pada saat Idul Adha kemarin saya dan keluarga berkunjung ke Sukabumi untuk merayakan lebaran haji disana sekaligus mengunjungi keluarga ayah saya. Maklum sudah hampir tiga tahun kami sekeluarga tidak mengunjungi saudara kami di Sukabumi tepatnya di daerah Cibadak. Saya jelas sangat senang  sekali begitu tahu kami akan ke Sukabumi, soalnya bisa sambil jalan-jalan juga disana, hehehe…. Kami berada di Sukabumi selama dua hari satu malam dan berangkat dari rumah di Tangerang sehari sebelum lebaran, kami pun menginap di rumah uwa. Besoknya kami pun shalat ied di salah satu masjid di daerah Karang Tengah, Cibadak. Saya begitu senang bisa shalat ied di Sukabumi karena udaranya sejuk, maklum kami shalat di lapangan jadi udara pun begitu terasa sejuk. Selain itu yang bikin senang salah satunya adalah mojang Sukabumi anu geulis pisan yang pada ikut shalat juga, hehe….



Setelah selesai shalat saya dan keluarga kemudian pulang ke rumah untuk siap-siap menuju ke rumah saudara yang lain sekalian mau lihat sapi dipotong. Bayangan saya dari sejak di Tangerang adalah ingin jalan-jalan setiba di Sukabumi. Tapi ternyata semuanya batal karena sapi yang dipotong tak kunjung dipotong hingga siang hari sehingga kami pun batal untuk jalan-jalan ke tempat wisata di Sukabumi yang terkenal yaitu Pelabuhan Ratu. Rencana tinggal rencana ternyata, singkat cerita perjalanan ke Pelabuhan Ratu pun batal sampai ketika siang harinya kami memutuskan untuk pulang ke Tangerang untuk menghindari macet. Maklum akses menuju Jakarta hanya satu dan sering terkena macet makanya kami memutuskan untuk pulang cepat-cepat. Sebenarnya kesal juga sih kalau dipikir-pikir maksud hati ingin ke Pelabuhan Ratu tapi apalah daya.. ya sudahlaahh..



Ketika dalam perjalanan pulang ke Tangerang, saya teringat akan sebuah situs bersejarah yang  sebelumnya sudah saya ketahui namun belum pernah sekalipun saya kunjungi. Situs bersejarah itu dahulunya adalah lokasi tempat pertempuran antara pejuang kita dengan tentara sekutu/inggris pada tahun 1945. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Peristiwa Bojongkokosan atau Pertempuran Bojongkokosan. Langsung saja saya memberitahu orang tua dan adik saya untuk berkunjung ke lokasi itu dan ternyata mereka semua mengiyakan, saya sangat senang sekali mendengarnya maklum saya ini sangat menyukai sejarah. Setelah beberapa saat kami pun tiba di lokasi tersebut dan langsung masuk ke area situs tersebut. Ternyata lokasi tersebut dijadikan ajang muda-mudi untuk memadu kasih, memang bikin iri saja mereka, hehehe… 

Begitu masuk ke situs tersebut langsung saja saya mengabadikan semua yang ada di lokasi tersebut. Di situs itu terdapat monumen perjuangan ketika menghadapi tentara sekutu pada saat itu kemudian terdapat pula replika tank yang terdapat di area tersebut. Ternyata di lokasi situs tersebut terdapat juga museum yang mempunyai koleksi diantaranya adalah senjata kuno kemudian foto-foto pelaku pertempuran bojongkokosan kemudian diorama pertempuran dan nama-nama pejuang yang gugur dalam peristiwa tersebut. Lokasi situs bojongkokosan tersebut sangat sejuk karena memang terdapat hutan yang dikelola oleh petugas museum, hanya memang ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh pemerintah mengenai lokasi situs bersejarah tersebut yang kurang begitu terawat. Mudah-mudahan pemerintah ke depannya dapat memperhatikan situs ini. 



Akhirnya kunjungan saya ke museum pun berakhir setelah sebelumnya melihat-lihat apa saja yang ada di museum tersebut. Kegagalan menuju Pelabuhan Ratu pun terobati dengan berkunjung ke situs Bojongkokosan dan rasa penasaran selama bertahun-tahun pun terlaksana sudah. Saya sekeluarga kemudian meninggalkan lokasi menuju Tangerang kembali dengan perasaan yang senang dan berharap suatu saat bisa kembali berkunjung ke Bojongkokosan lagi.



Putra Daerah Bali Peraih Penghargaan Adhi Makayasa TNI

                       Dalam mempersiapkan para pemimpinnya untuk dapat berkiprah di masa yang akan datang, maka TNI memiliki akademi yang b...