Monday, January 2, 2017

Sebuah Refleksi dari Uang Baru Pecahan 10 ribu Rupiah


Bank Indonesia baru-baru ini mengeluarkan pecahan uang kertas dan logam baru nominal Rp. 100.000 hingga Rp. 100, dalam pecahan uang baru tersebut  gambar depan uang akan dihiasi oleh figur pahlawan yang semuanya baru diluncurkan kecuali pecahan uang Rp. 100.000 yang tetap dihiasi oleh Sukarno-Hatta. Figur pahlawan yang terdapat di dalam uang baru ini merupakan representasi dari wilayah Indonesia yang tersebar darii Sabang sampai Merauke. Dalam pecahan uang baru ini pahlawan nasional yang berasal dari Papua akan menghiasi uang nominal Rp. 10.000, pahlawan tersebut bernama Frans Kaisiepo.

Frans Kaisiepo lahir di Biak pada tanggal 10 Oktober 1921 dan ketika Papua masih berada dibawah cengkeraman Belanda, ia berjuang agar Papua menjadi bagian dari Indonesia. Perjuangan Frans agar tanah kelahirannya menjadi bagian dari Indonesia baru terlaksana setelah dekade 60-an saat Papua yang kemudian dikenal dengan Irian Jaya menjadi Provinsi ke-26 Indonesia. Frans selanjutnya menjabat sebagai Gubernur Irian Jaya tahun 1964-1973 dan sempat pula menjadi anggota MPR RI dan anggota Hakim Tertinggi Dewan pertimbangan Agung. Pada tanggal 10 April 1979, Frans wafat dan dimakamkan di TMP Cenderawasih di kota Jayapura.

Untuk mengenang jasa-jasa Frans Kaisiepo maka pada tanggal 14 September 1993, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional  melalui SK Presiden: Keppres No. 077/TK/1993. Selanjutnya nama Frans diabadikan menjadi nama bandara di tanah kelahirannya Biak yaitu Bandara Frans Kaisiepo, namanya diabadikan pula menjadi nama kapal perang TNI-AL dengan nama KRI Frans Kaisiepo. Selain itu wajah Frans pernah diabadikan pula dalam prangko yang dikeluarkan pada tahun 1999 dan kini untuk pertama kalinya wajah Frans akan menghiasi uang pecahan Rp.10.000 yang telah dikeluarkan pada tahun 2016 ini. Selain Frans Kaisiepo tercatat ada tiga tokoh asal Papua yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional yaitu Silas Papare, Marthen Indey dan Johanes Abraham Dimara. Silas Papare namanya diabadikan menjadi nama kapal perang TNI-AL dengan nama KRI Silas Papare sedangkan Marthen Indey namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit tentara di kota Jayapura yaitu Rumkit Tk II Marthen Indey.

Kemunculan wajah Frans Kaisiepo dalam pecahan uang kertas yang baru ini memang menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan masyarakat bahkan tidak sedikit pula masyarakat yang “membully” sosok pahlawan ini. Dengan munculnya beragam reaksi masyarakat tersebut, sepatutnya kita sebagai warga Negara yang baik harus menghargai setiap jasa para pahlawan yang telah berjuang demi bangsa dan Negara ini. Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke tentu akan diperjuangkan oleh masyarakat yang  berasal dari latar belakang yang berbeda dengan tujuan hanya satu yaitu Indonesia Merdeka. Harus diingat pula bahwa bangsa ini tidak hanya didirikan oleh satu golongan saja tetapi juga oleh berbagai macam golongan, semboyan Negara kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua sudah menjadi refleksi betapa keberagaman di Indonesia harus selalu kita junjung tinggi.

Saya memiliki argumen tersendiri terhadap kemunculan seorang Frans Kaisiepo dalam pecahan uang kertas yang baru ini. Menurut saya dengan adanya pahlawan nasional yang berasal dari Papua menandakan bahwa Papua sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena secara tidak langsung uang tersebut akan digunakan di seluruh wilayah Indonesia, selain itu hal ini tentunya akan semakin membuat masyarakat Papua bangga karena salah satu tokoh masyarakatnya mendapatkan kehormatan muncul dalam pecahan uang kertas yang baru. Terakhir yang bisa saya katakan bahwa  bangsa yang besar ialah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya dan jasa-jasa Frans Kaisiepo pada masa lalu itulah yang sudah sepatutnya harusnya selalu kita kenang.

No comments:

Post a Comment

Bangunan Peninggalan Belanda di Tangerang

Penjajahan Belanda di Indonesia yang telah berlangsung hingga ratusan tahun lamanya tentu meninggalkan bukti-bukti sejarah yang tidak se...