Langsung ke konten utama

Piala AFF, Stadion Pakansari & Tangerang

Gelaran Piala AFF 2016 baru saja usai dimana Tim Nasional Thailand keluar sebagai juara setelah mengandaskan perlawanan Tim Nasional Indonesia di partai puncak dengan agregat 3-2. Kemenangan atas Indonesia di partai puncak sekaligus menegaskan dominasi Tim Gajah Putih sebagai raja sepakbola di Asia Tenggara dengan torehan lima gelar dalam kancah Piala AFF. Terlepas dari kemenangan Thailand di partai puncak tentu kita tak boleh lupakan juga bagaimana perjuangan skuad garuda hingga mencapai babak final yang sebetulnya jauh melebihi ekspektasi banyak kalangan mengingat persiapan yang dilakoni oleh skuad garuda yang serba terbatas.

Final kelima bagi Indonesia di kancah Piala AFF tahun ini mungkin terlihat sedikit berbeda terutama penggunaan stadion pada laga final kali ini. Semenjak diperkenalkannya format home and away pada laga final Piala AFF, Indonesia telah dua kali masuk final kejuaraan sepakbola terbesar di Asia Tenggara ini dan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) selalu menjadi pilihan utama. Namun pada laga final tahun ini stadion yang digunakan untuk kandang oleh Tim Nasional Indonesia pada saat melawan Tim Nasional Thailand ialah Stadion Pakansari di Cibinong Kabupaten Bogor, hal ini mengingat SUGBK sedang mengalami proses renovasi dalam persiapan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Pemilihan Stadion ini tentunya menjadi kejutan tersendiri bagi banyak kalangan karena masih banyak stadion lain yang juga memiliki kualitas yang lebih baik. Namun apapun itu Stadion Pakansari telah membuat sejarahnya sendiri sebagai stadion yang pernah menggelar laga final sepakbola terbesar di Asia Tenggara selain Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Laga final yang dilaksanakan di Stadion Pakansari sebetulnya membuat saya sedikit iri karena Bogor sebagai tempat dimana Stadion Pakansari berada mampu menyelenggarakan pertandingan sekelas Piala AFF 2016. Sebagai warga Tangerang saya pun sedikit berandai-andai jika laga final tersebut dilaksanakan di kota ini namun apalah daya stadion di Tangerang jauh dari kata layak untuk menyelenggarakan pertandingan sekelas Piala AFF bahkan satu-satunya stadion di Tangerang yaitu Stadion Benteng kondisinya sangat memprihatinkan.

Pemerintah kabupaten Tangerang sebenarnya sedang membuat stadion di daerah Pagedangan yang nantinya akan digunakan sebagai kandang klub Persita Tangerang namun pengerjaan stadion tersebut hingga saat ini belum juga rampung. Padahal jika stadion ini telah rampung tentunya tidak akan kalah dengan stadion megah lainnya di Indonesia bahkan laga final Piala AFF yang kemarin dilaksanakan di Stadion Pakansari bisa saja dilaksanakan di Stadion ini mengingat lokasinya yang tidak jauh dari tempat latihan Tim Nasional di daerah Karawaci dan tidak jauh pula dari Bandara Sukarno-hatta. Semoga laga final Piala AFF yang dilaksanakan di Stadion Pakansari menjadi pelecut bagi setiap daerah di Indonesia untuk membuat stadion yang bertaraf internasional dan saya berharap Tim Nasional Indonesia pada tahun 2018 nanti kembali masuk final dalam Piala AFF dan laga final dapat diilaksanakan di Tangerang. Semoga...

Komentar

  1. BONUS 10% EVERY DAY

    Perwakilan Bandar Taruhan Judi Bola Sbobet Online Terpercaya dan terbaik yg sediakan jasa pelayanan pada pembukaan akun permainan judi atau taruhan online pada anda di peserta judi online yg berkedudukan International, benar dan terpercaya hanya di zeusbola.biz.

    Yang Merupakan Delegasi Bola Sbobet Indonesia Terpercaya, ZeusBola telah berkerja sama bersama industri Sbobet beroperasi di Asia yang dilisensikan oleh First Cagayan Leisure & Resort Corporation, Manila-Filipina dan di Eropa dilisensikan oleh sang pemimpin Isle of Man terhadap beroperasi yang merupakan juru taruhan sport sedunia.

    sabung ayam s1288

    Ayo daftar sekarang di zeusbola.biz

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Ksatria Lembah Tidar yang gugur di Timor-Timur

Ketika masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Timor-Timur merupakan provinsi temuda atau Provinsi ke-27 NKRI. Namun selama hampir 23 tahun bergabung dengan Indonesia, provinsi ini selalu bergejolak dengan munculnya gerakan perlawanan yang oleh pemerintah saat itu dikatakan sebagai Gerakan Pengacau Kemanan (GPK). Munculnya gerakan perlawanan ini sudah ada semenjak Timor-Timur bergabung ke dalam bingkai NKRI pada tahun 1975 namun integrasi wilayah ini oleh sebagian rakyat Timor-Timur saat itu tidak diinginkan sehingga memunculkan perlawanan terhadap kedudukan pemerintah Indonesia di Timor-Timur.  ABRI (TNI-POLRI sekarang) sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan Negara selanjutnya ditugaskan untuk meredam berbagai macam gerakan perlawanan yang timbul saat itu, salah satunya dengan cara membuat komando militer dan juga mengirimkan pasukan dari berbagai macam daerah di Indonesia ke wilayah tersebut.
Komando teritorial di wilayah Timor-Timur saat itu ialah Koman…

Kemaritiman di Indonesia Dahulu dan Kini

Oleh: M. Alfian Nugraha Fauzi

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”
Penggalan lirik lagu tersebut mungkin tidak asing bagi kita, lirik yang menggambarkan betapa hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa penjelajah dan berhasil mengarungi samudera. Patut diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari belasan ribu pulau serta memiliki lautan yang luas, Indonesia sudah sepatutnya memfokuskan diri dalam bidang kemaritiman. Namun kata “Maritim” seolah tenggelam dibawah bayang-bayang kata “Agraris” yang terlanjur melekat di ingatan banyak orang di Indonesia. Arti kata “Maritim” sendiri berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia yaitu berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Merujuk kepada arti kata maritim tersebut maka tidak dapat dipungkiri semua aktifitas pelayaran dan perdagangan di laut pada masa lalu pernah dilakukan…

Keberhasilan WNI Asal Timor-Timur di Indonesia

Timor-Timur memang sudah memisahkan diri dari NKRI pada tahun 1999 setelah sebelumnya diadakan Jajak Pendapat oleh PBB yang dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan. Provinsi ini lebih memilih untuk berpisah setelah berintegrasi dengan NKRI selama 23 tahun. Daerah ini resmi menjadi sebuah Negara yang berdaulat pada tahun 2002 dengan nama Timor Leste. Lepasnya provinsi ke-27NKRI ini sebenarnya sangat disayangkan karena pengorbanan yang telah dilakukan selama wilayah ini masih bergabung dengan NKRI. Dengan lepasnya wilayah ini menyebabkan banyak eksodus warga Timor-Timur baik pendatang maupun penduduk asli ke wilayah Indonesia terutama ke wilayah Nusa Tenggara Timur.  Tidak sedikit penduduk asli Timor-Timur yang kemudian tetap menjadi WNI dan tinggal di sekitar wilayah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kini setelah lima belas tahun meninggalkan tanah kelahiran mereka, kehidupan WNI asal Timor-Timur sebagian besar masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pula yang masih…