Langsung ke konten utama

Para Ksatria Lembah Tidar yang gugur di Timor-Timur



Ketika masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Timor-Timur merupakan provinsi temuda atau Provinsi ke-27 NKRI. Namun selama hampir 23 tahun bergabung dengan Indonesia, provinsi ini selalu bergejolak dengan munculnya gerakan perlawanan yang oleh pemerintah saat itu dikatakan sebagai Gerakan Pengacau Kemanan (GPK). Munculnya gerakan perlawanan ini sudah ada semenjak Timor-Timur bergabung ke dalam bingkai NKRI pada tahun 1975 namun integrasi wilayah ini oleh sebagian rakyat Timor-Timur saat itu tidak diinginkan sehingga memunculkan perlawanan terhadap kedudukan pemerintah Indonesia di Timor-Timur.  ABRI (TNI-POLRI sekarang) sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan Negara selanjutnya ditugaskan untuk meredam berbagai macam gerakan perlawanan yang timbul saat itu, salah satunya dengan cara membuat komando militer dan juga mengirimkan pasukan dari berbagai macam daerah di Indonesia ke wilayah tersebut.

Komando teritorial di wilayah Timor-Timur saat itu ialah Komando Resort Militer 164/Wiradharma yang berada dibawah kendali dari Komando Daerah Militer IX/Udayana. Selain itu di wilayah Timor-Timur terdapat pula dua batalyon organik yaitu Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bakti yang berkedudukan di Dili (kini berkedudukan di Atambua) dan Batalyon Infanteri (Yonif) 745/Sampada Yudha Bakti yang berkedudukan di Lospalos (kini batalyon ini dilikuidasi bersama dengan Korem 164). Sedangkan untuk komando tempur dibentuklah Kodahamkan dan selanjutnya menjadi Kolakops. Tugas-tugas satuan tempur yang berada  di Timor-Timur tidak hanya untuk menghadapi gerakan perlawanan saja tetapi juga melaksanakan berbagai macam kegiatan bakti sosial mulai dari memberikan pengobatan gratis dan membangun berbagai macam sarana dan prasarana di Timor-Timur. 

Medan tugas di Timor-Timur ternyata menjadi arena tersendiri bagi para lulusan Akademi Militer (AKMIL) yang telah mendapatkan berbagai macam pengetahuan tempur dan teritorial selama pendidikan di Magelang. Timor-Timur menjadi medan tugas yang sesungguhnya bagi para “Kstaria Lembah Tidar” ini dalam memimpin pasukan guna menghadapi gerakan perlawanan di wilayah Timor-Timur. Selama hampir 23 tahun bergabung dengan Indonesia, tidak sedikit perwira ABRI lulusan Akademi Militer ini yang gugur di Timor-Timur baik itu dalam kontak senjata langsung maupun dalam kecelakaan dan sebagian dari mereka yang gugur kemudian dimakamkan di TMP Seroja yang tersebar di hampir setiap kabupaten (kini distrik) di wilayah Timor-Timur.

Berikut ini beberapa nama perwira lulusan Akademi Militer beserta angkatannya yang gugur selama bertugas di Timor-Timur selama 23 tahun ABRI bertugas di wilayah tersebut. 

Akmil 1965
Abituren Akmil 1965 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a. Mayor Inf Atang Sutresna ialah perwira Akmil angkatan 1965 yang gugur saat  bertugas di Timor-Timur tepatnya pada saat hari pertama penerjunan pasukan di atas kota Dili pada tanggal 7 Desember 1975, Mayor Atang merupakan perwira Kopassus yang menjabat sebagai Komandan Detasmen Tempur 1.
b. Letkol Inf Ismudayat gugur saat bertugas di Timor-Timur pada tahun 1981 dan bertugas di Kodam IX Udayana

Akmil 1966
Mayor inf Thomas Pujiarso gugur dalam tugas di wilayah Aileu pada tahun 1978 dan bertugas di Puspenerbad.

Akmil 1967
Abituren Akmil 1967 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a. Mayor Inf Ella Badjuri yang berasal dari kesatuan Kopassus merupakan salah satu abituren Akmil 1967 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1978.
b. Kolonel Irtom Tabrani merupakan salah satu abituren Akmil 1967 yang gugur dalam tugas pada tahun 1990 dan menjabat sebagai Komandan Brigif 13/Kostrad.

Akmil 1968
Abituren Akmil 1968 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a.  Mayor Inf Adjat Sudrajad dan abituren Akmil 1968 yang gugur dalam tugas pada tahun 1975 di Timor-Timur dan berasal dari Yonif 501/Kostrad.
b. Mayor Inf H. Simanjuntak  merupakan teman satu kesatuan di Yonif 501/Kostrad dan satu angkatan di Akmil 1968 dengan Kapten Inf Adjat Sudrajat yang gugur dalam tugas di Timor-Timur saat penerjunan pasukan di kota Dili tahun 1975.
c. Mayor Inf Baharuddin berasal dari Yonif 405/Surya Kusuma dan gugur dalam tugas pada tahun 1975.
d. Mayor Inf. Kandiasi Rachman berasal dari Yonif 726/Tamalatea dan gugur dalam tugas pada tahun 1977.
e.  Kapten O.S. Rajagukguk berasal dari Yonif 143/Rajawali yang gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1976.
f.  Kolonel Inf. Bambang Dwipojono berasal dari Brigade Infanteri 9/Kostrad dan bertugas sebagai Komandan Brigif yang gugur pada tahun 1990.

Akmil 1970
Selama bertugas di Timor-Timur tidak sedikit lulusan AKABRI pertama ini yang gugur dalam tugas, dalam buku Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi “Pengabdian pertama alumni Akabri Pertama 1970” para perwira yang gugur yaitu:
a. Kapten Inf Damhuri Amir yang bertugas sebagai Danki di Yonif 407/Padma Kusuma dan gugur pada tahun 1975.
b.  Kapten Inf Sabri Mallisy yang bertugas sebagai Danki Yonif 405 dan gugur pada tahun 1975.
c. Mayor Inf Nico Tumatar berasal dari kesatuan Kopashanda yang gugur pada tahun 1976.
d. Mayor Inf Sutrisno yang bertugas sebagai Danki Yonif Linud 328 gugur pada tahun 1978.

Akmil 1971
Abituren Akmil 1971 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a. Mayjen TNI Yudomo SHD yang gugur pada tahun 1998 ketika helikopter Puspenerbad yang ditumpanginya jatuh di wilayah Viqueque setelah meninjau pos kotis di wilayah tersebut, saat itu ia menjabat sebagai Pangdam IX Udayana dan baru satu minggu dilantik menjadi Pangdam, turut gugur pula dalam kecelakaan itu Danrem 164/Wiradharma.
b.  Lettu Inf Suripno yang berasal dari Yonif Linud 328/Dirgahayu dan gugur pada tahun 1975.
c. Kapten Inf Agus Revulton berasal dari Yonif Linud 305/Kostrad dan gugur pada tahun 1976.
d. Kapten Inf Alex S. berasal dari Yonif 623/Bhakti Wira Utama yang gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1976.
e. Mayor Inf Suwarno berasal dari Yonif 142/Ksatria Jaya dan gugur pada tahun 1977.

Akmil 1972
Abituren Akmil 1972 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a. Mayor inf Balai Ginting ialah salah satu perwira lulusan Akmil yang gugur dalam tugas di Timor-Timur tahun 1986 dan merupakan perwira Kopassus. Mayor Ginting kemudian dimakamkan di TMP Seroja Dili dan Presiden SBY pada tahun 2014 sempat mengunjungi TMP ini dan menaburkan bunga di pusara Mayor Ginting.
b. Lettu Inf Urip Santoso gugur dalam tugas pada tahun 1976 dan berasal dari Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya.
c. Kapten Inf Djarkasi gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 406/Candrakusuma.
d. Kapten Inf R.A. Santoso gugur dalam tugas pada tahun 1976 dan berasal dari Batalyon Infanteri 507/Mahastra Yudha.
d. Kapten Inf Yayat Sumirat gugur dalam tugas pada tahun 1977 dan berasal dari Batalyon Infanteri 512/Cura Tara Yudha.
e. Kapten Inf Heru Suparino gugur pada tahun 1978 dan berasal dari Batalyon Infanteri 721/Makassau.

Nama Mayor Inf Balai Ginting terpatri di Monumen Seoja-Cilangkap

Akmil 1973
Dalam penugasan di Timor-Timur ini ada beberapa perwira seangkatan Presiden SBY yang gugur di medan tugas diantaranya ialah:
a.  Lettu Inf Anwar Muchtar merupakan Danton di Yonif Linud 328/Dirgahayu yang gugur di Gunung Matabean pada tahun 1978.
b.  Letda Inf  Basyumi Djoned gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 405/Surya kusuma.
c. Lettu Inf Hasoloan Situmeang gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 320/Badak Putih.
d. Lettu Art H.M. Firdaus Fauzi gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di Kodam VII/Wirabuana.
e. Letda Inf Koesnan gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 405/Surya Kusuma.
f. Letda Inf Achmad gugur di Timor-Timur pada tahun 1975 dan bertugas di kesatuan Yonif 406/Chandra kusuma.
g. Lettu Inf Tri Susanto gugur di Timor-Timur pada tahun 1978 dan bertugas di kesatuan Yonif 126/Kala Sakti.
h.  Mayor Inf Soedjarwo gugur di Timor-Timur pada tahun 1986 dan bertugas di kesatuan Yonif 125/Tombak Sakti, ia dimakamkan di TMP Seroja Dili.
i. Kolonel Inf Satria Buana gugur dalam kecelakaan Helikopter di wilayah Viqueque bersama Pangdam IX/Udayana pada tahun 1998, Kolonel Satria saat itu menjabat sebagai Asisten Operasi Kasdam IX/Udayana.

Akmil 1974
Perwira lulusan Akmil yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ini ialah
a. Lettu Czi Bandel Wisiksono gugur dalam tugas di wilayah Lospalos pada tahun 1976, ia saat itu bertugas di Yonzipur 10/Kostrad.
b.  Letda Inf Mukri Ali Yeriza gugur pada tahun 1976 dan bertugas di Yonif 743/PSY.
c.  Letda Inf Rusdy Anang gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 405/Surya Kusuma.
d. Letda Inf Sriwoko gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 126/Kala Sakti.
d. Letda Inf Sudarmaji gugur di Timor-Timur pada tahun 1976 dan bertugas di kesatuan Yonif 145/Bhakti Negara Laga Utama.
e. Kapten Inf Didi Haryadi merupakan Danton di Yonif Linud 328/Dirgahayu yang gugur di Gunung Matabean pada tahun 1979.
e. Kapten Inf Agus Sutrisno gugur pada tahun 1979 dan bertugas di Yonif 643/Wanara Sakti.
f. Kolonel Inf Djodi Kusuma gugur dalam kecelakaan Helikopter bersama Pangdam IX/Udayana di wilayah Viqueque pada tahun 1998, saat itu ia menjabat sebagai Komandan Sektor A Kolakops Timtim.


Akmil 1975
Perwira lulusan Akmil 1975 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ini ialah:
a. Kapten Inf. Haposan Hutagalung gugur dalam tugas di Gunung Matabean pada tahun 1978, ia saat itu bertugas di Yonif Linud 328/Dirgahayu.
b. Kapten Inf Sutosma yang berasal dari Kopashanda dan gugur pada tahun 1978.
c. Kapten Inf Sugih Kusuma gugur pada tahun 1978 di Gunung Matabean dan bertugas di Yonif Linud 502/Kostrad.
d. Kapten Inf Yustiono gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1978 dan bertugas di Yonif Linud 503/Kostrad.
e. Kol Inf Pangandaran Napitupulu gugur dalam kecelakaan helikopter di Viqueque pada tahun 1998, saat itu menjabat sebagai Asisten Intelijen Kasdam IX/Udayana.
f. Kolonel Infanteri Salamat Sidabutar gugur pada tahun 1998 dalam kecelakaan Helikopter bersama Pangdam IX/Udayana di wilayah Viqueque, ia saat itu menjabat sebagai Komandan Korem 164 Wiradharma.

Akmil 1976
Abituren Akmil 1976 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a.  Mayor Inf Martono berasal dari kesatuan Kopassus dan gugur pada tahun 1984 dan namanya kini terpatri dalam sasana kusuma bangsa Kopassus, ia dimakamkan di TMP Tiulale.
b. Lettu Inf Djaelani gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1978, dan berasal dari kesatuan Brigif Linud 18/Kostrad.

Akmil 1978
Mayor Inf I Ketut Warka gugur pada tahun 1991 dan bertugas di Brigade Infanteri 17/Kostrad.

Akmil 1981
Dalam penugasan di Timor-Timur ini ada beberapa perwira seangkatan dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Moeldoko yang gugur di medan tugas diantaranya ialah:
a. Lettu Inf Gustaf Moerdianto gugur pada tahun 1987 dan berasal dari Yonif 611/Awang, namanya kini diabadikan menjadi nama lapangan tenis di Yonif 641.
b. Lettu Inf Unggul Budi Karyawan yang berasal dari Kopasshanda dan gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1982.
c. Lettu Inf P. Sitanggang yang berasal dari Yonif 514/Kostrad gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1982.
d. Kapten Inf Hadi WBT yang berasal dari Yonif 411/Kostrad dan gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1982.
e. Kapten Czi  Mansyur Panggabean yang gugur di Baucau pada tahun 1985 dan dimakamkan di TMP Buibao, ia saat itu menjabat sebagai Danki Yonzikon 11.
f. Mayor Inf Broto Atmojo gugur pada tahun 1998 dan bertugas di Kodam IX Udayana.

Akmil 1982
Letkol Inf. Simpson G. Sigar gugur pada tahun 1998 dalam kecelakaan Helikopter bersama Pangdam IX/Udayana di wilayah Viqueque, ia saat itu menjabat sebagai Kasi Ops Korem 164 Wiradharma setelah sebelumnya menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 745/Sampada Yudha Bakti.

Akmil 1983
Salah satu abituren Akmil 1983 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a. Lettu Inf Ade Suwanda berasal dari kesatuan Kopashanda dan gugur dalam tugas pada tahun 1984, ia dimakamkan di TMP Tiulale.
b. Lettu Inf E. William F. berasal dari kesatuan Kopashanda dan gugur dalam tugas pada tahun 1988, ia  dimakamkan di TMP Buibao.
c. Lettu Inf M. Agus T berasal dari kesatuan Yonif Linud 503/Kostrad dan gugur dalam tugas pada tahun 1985.
d. Kapten Inf Abidin Mada berasal dari kesatuan Grup 2/Kopassus dan gugur dalam tugas pada tahun 1986.
e. Kapten Czi Widayat Sigit Waluyo berasal dari Yonzipur 9/Kostrad dan gugur dalam tugas pada tahun 1986.

Akmil 1984
Abituren Akmil 1984 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a. Lettu Inf  B. Hariyanto berasal dari kesatuan Yonif Linud 501/Kostrad  dan gugur pada tahun 1984.
b. Lettu Inf  Sarjono gugur dalam tugas di Timor-Timur pada tahun 1986, dan berasal dari kesatuan Yonif 327/Brajawijaya.

Akmil 1985
Abituren Akmil 1985 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a.  Letda Inf Siprianus Gebo berasal dari Yonif Linud 328/Dirgahayu dan gugur pada tahun 1989, namanya kini diabadikan menjadi nama aula di Markas Yonif Linud 328 di Cilodong.
b.  Lettu Inf. Togima Tigor gugur dalam tugas pada tahun 1988 dan berasal dari kesatuan Yonif   Linud  431/Kostrad.
c.  Letda Czi Heriyanto gugur dalam tugas pada tahun 1988 dan berasal dari Yon Zipur 9/Kostrad, ia dimakamkan di TMP Buibao.
d. Kapten Inf Nelson S. gugur dalam tugas pada tahun 1990 dan berasal dari Brigade Infanteri 18/Kostrad.

Akmil 1986
Abituren Akmil 1986 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a.  Lettu Cpl. Prihastono gugur pada tahun 1988 dan berasal dari kesatuan Grup 1/Kopassus, ia  dimakamkan di TMP Buibao.
b.  Letda Inf Edi Sueb gugur dalam tugas pada tahun 1988 dan berasal dari Yonif 323/Kostrad ia dimakamkan di TMP Seroja Dili.
c.   Lettu Inf Juanda gugur dalam tugas pada tahun 1986 dan berasal dari Yonif 509/Kostrad.
d. Letda Czi Dodi E. Irianto gugur dalam tugas pada tahun 1988 dan berasal dari Yon Zikon 12/Ditziad, ia dimakamkan di TMP Seroja Dili.
e.  Lettu Cam Fajari Muhtar gugur dalam tugas pada tahun 1988 dan berasal dari Yon Bekang 2/Kostrad, ia dimakamkan di TMP Buibao.

Akmil 1987
Abituren Akmil 1987 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a.   Lettu Inf Danil Mirza  gugur dalam tugas pada tahun 1992 dan berasal dari dari Yonif 321/Kostrad, ia dimakamkan di TMP Seroja Dili.
b.    Lettu Inf M. Syachriel  gugur dalam tugas pada tahun 1989 dan berasal dari Yonif 511/Dibya Tara Yudha, ia dimakamkan di TMP Buibao.
c.     Letda Inf Yudi Saputra gugur dalam tugas di Timor-Timur dan berasal dari Yonif 413/Kostrad.
 
Akmil 1988
Abituren Akmil 1988 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
Letda Czi Hevi Arwan berasal dari Yonzipur 4/Dam IV dan gugur pada tahun 1990.

Akmil 1989
Abituren Akmil 1989 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
Letda Inf Sumeidi berasal dari Yonif Linud 700/Wira Yudha Sakti dan gugur pada tahun 1991    dan  dimakamkan di TMP Seroja Dili.


Akmil 1990
Abituren Akmil 1990 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
Kapten Czi R. Bambang Sulistyono berasal dari Denzipur 8/Dam VI Tanjungpura dan gugur pada tahun 1997.

Akmil 1991
Kapten Inf. I Ketut D.A. gugur dalam tugas pada tahun 1997 dan berasal dari kesatuan Yonif 621/Manuntung.

Akmil 1994
Abituren Akmil 1994 yang gugur dalam tugas di Timor-Timur ialah:
a.    Lettu Inf  Fajar Nugroho  gugur dalam tugas pada tahun 1997 dan berasal dari dari Yonif 121/Macan Kumbang.
b.    Letda Inf  Heribertus  gugur dalam tugas pada tahun 1997 dan berasal dari Brigade Infanteri 3/Kostrad.
c.    Lettu Inf Marius Dedi W. gugur dalam tugas pada tahun 1997 dan berasal dari Yonif 713/STNY ia dimakamkan di TMP Seroja Dili.

Akmil 1995
Letda Inf. Didik Setyawan gugur dalam tugas pada tahun 1997 dan dimakamkan di TMP Seroja Dili, ia berasal dari kesatuan Yonif 713/STNY.

Nama alumni Akmil 1994 dan 1995 yang gugur terpatri di Monumen Seroja
Itulah sebagian nama para Ksatria Lembah Tidar yang gugur selama bertugas di Timor-Timur meskipun masih ada beberapa dari mereka yang belum disebutkan di dalam tulisan ini. Tugas yang telah mereka lakukan saat itu jauh melebihi panggilan tugas yang diemban di pundak mereka bahkan nyawa pun mereka berikan demi tegaknya Merah Putih di Bumi Lorosae. Nama mereka yang gugur kini terpatri abadi di Monumen Seroja dan satuan-satuan tempat mereka bertugas. Semoga perjuangan mereka yang telah gugur akan tetap dikenang selalu.

Komentar

  1. Semua itu adalah bagian dari risiko menjadikan tentara sebagai pilihan profesi. mudah-mudahan pengorbanan jiwa mereka tidak sia-sia. TNI jangan pernah menyerah di segala medan. saya salut kepada mereka para pahlawan Timtim tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah memang resiko menjadi seorang tentara, walaupun wilayah yang dahulu mreka prjuangkan telah lepas dari pangkuan NKRI namun semangat dan jasa mereka tidak akan prnh trlupakan

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemaritiman di Indonesia Dahulu dan Kini

Oleh: M. Alfian Nugraha Fauzi

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”
Penggalan lirik lagu tersebut mungkin tidak asing bagi kita, lirik yang menggambarkan betapa hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa penjelajah dan berhasil mengarungi samudera. Patut diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari belasan ribu pulau serta memiliki lautan yang luas, Indonesia sudah sepatutnya memfokuskan diri dalam bidang kemaritiman. Namun kata “Maritim” seolah tenggelam dibawah bayang-bayang kata “Agraris” yang terlanjur melekat di ingatan banyak orang di Indonesia. Arti kata “Maritim” sendiri berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia yaitu berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Merujuk kepada arti kata maritim tersebut maka tidak dapat dipungkiri semua aktifitas pelayaran dan perdagangan di laut pada masa lalu pernah dilakukan…

Keberhasilan WNI Asal Timor-Timur di Indonesia

Timor-Timur memang sudah memisahkan diri dari NKRI pada tahun 1999 setelah sebelumnya diadakan Jajak Pendapat oleh PBB yang dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan. Provinsi ini lebih memilih untuk berpisah setelah berintegrasi dengan NKRI selama 23 tahun. Daerah ini resmi menjadi sebuah Negara yang berdaulat pada tahun 2002 dengan nama Timor Leste. Lepasnya provinsi ke-27NKRI ini sebenarnya sangat disayangkan karena pengorbanan yang telah dilakukan selama wilayah ini masih bergabung dengan NKRI. Dengan lepasnya wilayah ini menyebabkan banyak eksodus warga Timor-Timur baik pendatang maupun penduduk asli ke wilayah Indonesia terutama ke wilayah Nusa Tenggara Timur.  Tidak sedikit penduduk asli Timor-Timur yang kemudian tetap menjadi WNI dan tinggal di sekitar wilayah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kini setelah lima belas tahun meninggalkan tanah kelahiran mereka, kehidupan WNI asal Timor-Timur sebagian besar masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pula yang masih…