Friday, February 27, 2015

Wisata Sejarah di Kota Serang


Pengalaman ini mungkin bisa dibilang begitu berharga buat saya, saking berharganya saya sampai ingin mengulanginya lagi. Sebuah kisah perjalanan yang tidak terduga sebelumnya oleh saya sendiri karena kesibukan yang saya jalani saat ini hingga saya pun tak sempat untuk melangkahkan kaki ini kemana pun yang saya inginkan. Saat ini saya menyibukkan diri dengan mengajar di salah satu sekolah di kabupaten Tangerang dan selama satu minggu mengajar tiap hari Kamis saya tidak ada jam mengajar di sekolah, otomatis saya libur di hari tersebut.
Disaat yang bersamaan di hari Kamis bapak saya mengajak diri saya untuk pergi ke kota Serang tepatnya untuk mengantarnya rapat di salah satu hotel yang berada di pusat kota Serang. Gayung bersambut Saya pun langsung mengiyakan ajakan tersebut karena memang belum pernah sekalipun mengunjungi pusat kota Serang tepatnya di alun-alun ibukota provinsi Banten tersebut. Kami berangkat dari Tengerang bersama teman bapak yang juga mengikuti rapat tersebut. Perjalanan dari Tangerang memakan waktu sekitar dua jam melewati jalan tol Jakarta-Merak hinga akhirnya tiba di kota Serang. Karena belum tahu letak hotel tersebut kami sempat menyasar hingga ke kantor gubernur Banten sampai akhirnya tiba di lokasi yang dituju yaitu di jalan Maulana Yusuf.
Memasuki kota Serang pandangan mata saya seperti terhipnotis oleh bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang terdapat di kota tersebut. Bangunan khas kolonial yang saya lihat sepanjang perjalanan adalah Kantor Polres Serang, Wisma TNI AU Detasemen Gorda, Pendopo Kabupaten Serang dan Kantor Gubernur Banten. Namun betapa terkejutnya saya begitu mengetahui hotel yang kami tuju berada di samping persis kantor Korem 064/Maulana Yusuf Serang yang tidak lain juga merupakan bangunan khas kolonial.
Setelah memarkirkan mobil kemudian bapak saya bersama teman-temannya turun dan langsung bergegas mengikuti rapat yang sudah dijadwalkan. Dalam suasana menunggu rapat tersebut saya ditelepon oleh bapak bahwa rapat dilaksanakan hingga sore hari. Pikiran pun berkecamuk dalam benak saya “apa yang harus saya lakukan hingga sore hari nanti??” disaat yang bersamaan pulsa yang saya miliki habis, kemudian saya bertanya kepada security di hotel tersebut dimanakah saya bisa membeli pulsa dan ia pun menunjukkan bahwa tidak jauh dari hotel tersebut ada deretan pertokoan yang berada di jalan Tirtayasa. Setelah mengetahui saya langsung bergegas menuju ke deretan toko tersebut untuk membeli pulsa.
Setelah pulsa didapat saya pun berjalan kembali ke hotel dan menunggu di salah satu kedai kopi di sekitar hotel. Iseng menunggu saya pun teringat bangunan khas kolonial yang tidak jauh dari hotel tersebut yaitu Korem 064/Maulana Yusuf. Saya pun memutuskan untuk berjalan dan melihat bangunan yang menurut saya begitu artistik dari segi arsitekturnya. Tidak jauh dari bangunan korem ada lagi satu bangunan khas kolonial yang kini digunakan sebagai kantor Denpom III/4 Serang, setelah puas melihat dan mengabadikan bangunan tersebut saya pun kembali lagi ke hotel.


Gedung Korem 064/Maulana Yusuf Serang
Suasana hotel tempat bapak rapat memang berada di lokasi yang cukup ramai.Ketika sedang menunggu di hotel tiba-tiba saya mendengar bunyi suara kereta api dan setelah saya bertanya kepada security hotel ternyata ada stasiun kereta api yang tidak jauh dari hotel tersebut. Saya pun tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut dan langsung saja bergegas menuju lokasi yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. Melangkah ke stasiun tersebut saya melewati sebuah keramaian yang menurut penduduk sekitar dinamakan pasar pagi. Selain itu stasiun tersebut tidak begitu jauh lokasinya dari Pusat Kuliner kota Serang, namun jangan harap menemukan aneka macam makanan yang lezat di tempat itu justru kita hanya menemukan aneka penjual batu yang sekarang sedang memang marak di banyak tempat.

Gedung Denpom III/4 Serang
Begitu sampai di pinggir rel kereta api saya langsung melihat deretan bangunan khas kolonial yang berada di sisi rel tersebut. Saya pun menghampiri satu bangunan yang menurut saya adalah stasiun Serang, namun setelah saya bertanya kepada salah satu petugas ternyata itu adalah Kantor Sintel (Sinyal dan Telekomunikasi) dan stasiun kereta api tidak jauh dari kantor tersebut. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada begitu sampai di kantor Sintel tersebut dan langsung mengambil kamera di handphone saya untuk mengabadikan beberapa bangunan peninggalan Belanda di stasiun tersebut. Saya mendapatkan banyak informasi mengenai fungsi bangunan-bangunan dari petugas sintel tersebut.


Lori yang digunakan untuk meluruskan rel dengan latar belakang tempat pengisian air untuk kereta uap
Setelah pamit saya kemudian melangkahkan kaki menuju stasiun serang yang berjarak tidak jauh dari kantor tersebut. Mungkin karena saya orang jauh dan selalu memfoto apa yang saya lihat masyarakat sekitar pun memandangi saya dengan mimik muka yang bertanya-tanya. Setelah sampai di stasiun saya sudah disambut oleh anak-anak sd yang sedang melakukan study tour di stasiun tersebut. Setelah puas melihat stasiun yang terletak di jalan Kitapa tersebut saya memutuskan untuk kembali ke hotel dan tak lupa mengabadikan bangunan yang juga dijadikan sebagai benda cagar budaya oleh Pemprov Banten. 

Stasiun kereta api Serang
Sekitar jam 11 panggilan hati untuk memberi makan cacing di perut saya pun tak terelakkan lagi, saya pun memutuskan untuk makan di salah satu warteg di perempatan jalan Tirtayasa dan Maulana Yusuf. Setelah selesai makan saya pun pergi ke Masjid Agung Serang untuk sekedar beristirahat dan menunggu waktu shalat dzuhur. Disaat yang bersamaan hujan pun turun dan saya memutuskan untuk menuju hujan reda sambil istirahat dan menunggu bapak saya selesai rapat. Baru sekitar jam 3 sore rapat pun selesai dan bersamaan dengan itu pula saya bersama bapak dan teman-temannya kembali ke Tangerang. Sebuah pengalaman yang mengasyikan bagi saya dan suatu saat saya akan datang kembali menjelajahi kota Serang.


Bangunan peninggalan Belanda di jalan Kitapa

No comments:

Post a Comment

Bangunan Peninggalan Belanda di Tangerang

Penjajahan Belanda di Indonesia yang telah berlangsung hingga ratusan tahun lamanya tentu meninggalkan bukti-bukti sejarah yang tidak se...