Langsung ke konten utama

Abituren Akademi Angkatan Laut (AAL) yang gugur sebagai Kusuma Bangsa


Melihat kiprah TNI dalam menjaga kedaulatan Negara tentu sudah tidak diragukan lagi pengorbanannya. Saat kedaulatan Negara terancam oleh pihak-pihak yang ingin merusak kenyamanan tersebut baik itu berasal dari dalam maupun dari luar NKRI, TNI berada di garis depan dalam menjaga semuanya karena hal tersebut sudah menjadi harga mati. Tak terhitung berapa banyak pengorbanan yang dilakukan oleh TNI untuk menjaga itu semua mulai dari Indonesia merdeka sampai saat ini. Tentunya jasa-jasa mereka dalam menjaga keutuhan NKRI ini akan tetap dikenang sebagai kusuma bangsa.

Pengorbanan yang dilakukan dalam menjaga keutuhan NKRI tentu dilakukan juga oleh seluruh anggota TNI AL tak terkecuali bagi mereka yang lulus dari Akademi Angkatan Laut. Tidak sedikit para ksatria “Moro Krembangan” ini yang gugur dalam menjaga keutuhan NKRI semenjak angkatan pertama akademi ini lulus pada tahun 1954. Panggilan jiwa untuk menjaga keutuhan NKRI adalah semangat yang mereka tanam saat masih menjadi kadet di almamater kebanggaan mereka. Menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya meskipun nyawa menjadi taruhannya sudah menjadi resiko yang diambil karena kegagalan dalam tugas adalah sebuah cela yang harus dihindari sesuai dengan semboyan dari Akademi Angkatan Laut yaitu Hree Dharma Shanty yang berarti Malu Berbuat Cela. Berikut ini adalah para mantan kadet dari Akademi Angkatan Laut yang gugur dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Kapten Wiratno, Lulusan AAL Angkatan I (1954), Korps Pelaut

Nama ini tentunya tidak asing bagi seluruh khalayak TNI AL karena jasa dan peran besarnya dalam mengmbalikan Irian Barat menjadi bagian dari NKRI. Wiratno merupakan Komandan KRI Macan Tutul yang gugur ketika kapalnya karam ditembak pesawat Neptune milik militer Belanda yang saat itu tengah berada di sekitar Laut Arafuru (Laut Aru), bersamanya ikut gugur pula Deputi 1 KSAL Laksamana Yos Sudarso dan peristiwa ini terjadi pada tanggal 15 Januari 1962. Untuk menghormati jasa-jasanya maka nama Kapten Wiratno diabadikan menjadi nama kapal perang milik TNI AL yaitu KRI Wiratno 379.

Kapten Memet Sastrawiria, Lulusan AAL Angkatan II (1955), Korps Pelaut

Namanya mungkin tidak begitu dikenal dibandingkan Kapten Wiratno dan Laksamana Yos Sudarso namun Kapten Memet Sastrawiria termasuk berperan besar dalam mengembalikan Irian Barat menjadi bagian dari NKRI. Memet Sastrawiria saat itu menjadi ajudan dari  Laksamana Yos Sudarso yang saat itu berada di  atas KRI Macan Tutul sehingga saat pesawat Neptune milik militer Belanda itu menembak kapal tersebut dan karam pada tanggal 15 Januari 1962 maka Kapten Memet Sastrawiria ikut gugur dalam peristiwa tersebut. Untuk menghormati jasa-jasanya maka nama Kapten Memet Sastrawiria diabadikan menjadi nama kapal perang milik TNI AL yaitu KRI Memet Sastrawiria 380.

Letnan Laut Tjiptadi, Lulusan AAL Angkatan VIII (1961), Korps Pelaut

Letnan Laut Tjiptadi termasuk mantan kadet AAL yang gugur dalam peristiwa Laut Aru  saat KRI Macan Tutul ditembak oleh pesawat Neptune milik militer Belanda sehingga kapal tersebut karam pada tanggal 15 Januari 1962. Saat terjadinya peristiwa tersebut, Letnan Laut Tjiptadi sebenarnya baru saja lulus dari AAL setahun sebelumnya. Untuk menghormati jasa-jasanya maka nama Letnan Laut Tjiptadi diabadikan menjadi nama kapal perang milik TNI AL yaitu KRI Tjiptadi 381.

Kapten KKO Supraptono, Lulusan AAL Angkatan IV (1957), Korps Marinir

Kapten KKO Supraptono gugur dalam operasi penumpasan gerombolan DI/TII di Sulawesi Selatan dan sisa-sisa pemberontak PERMESTA serta tergabung dalam Operasi Tumpas. Kapten KKO Supraptono saat itu bertugas sebagai Komandan Detasemen Amphibi KKO AL III dalam operasi Tumpas. Namun selanjutnya ia gugur sehingga tugasnya digantikan kepada Kapten KKO Winarto pada bulan Juli 1964.

Kapten KKO Sutedi Senoputra, Lulusan AAL Angkatan V (1958), Korps Marinir

Kapten KKO Sutedi Senoputra merupakan mantan kadet AAL yang gugur dalam peristiwa penumpasan PERMESTA di Sulawesi Utara dan tergabung dalam Operasi Gondomono. Ia gugur pada tanggal 16 Januari 1960 selanjutnya ia dimakamkan di TMP Kairagi, Manado. Untuk menghormati jasa-jasanya maka namanya diabadikan menjadi nama Ksatrian Marinir Sutedi Senoputra Bhumi Marinir Karang Pilang, Surabaya dan nama kapal perang milik TNI AL yaitu KRI Sutedi Senoputra 378.

Letnan KKO Sutanto, Lulusan AAL Angkatan VIII (1961), Korps Marinir

Teman sengkatan Letnan Laut Tjiptadi ini gugur ketika terjadinya konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.  Letnan KKO Sutanto saat itu bertugas sebagai Komandan Peleton Khusus (Ton X) dalam bidang Intelijen dan ditugaskan untuk mengawasi pemusatan lawan di Matandak.  Namun dalam perjalanan bersama para anggotanya, ia terlibat kontak tembak dengan pihak lawan yang menyebabkan ia gugur dan jenazahnya baru ditemukan pada tanggal 17 Oktober 1963.

Kapten Mar Tamba Tua Marpaung, Lulusan AAL Angkatan XI (1965), Korps Marinir

Kapten Mar T.T. Marpaung ditugaskan di Timor-Timur bersama Pasukan Marinir 3 dan bertugas sebagai Perwira Seksi 2. Konsentrasi Pasukan marinir 3 berada di sekitar Baeco di wilayah selatan Timor-Timur. Kapten Mar T.T. Marpaung gugur pada tanggal 20 Februari 1976.

Kapten Mar Paulus Edward Dauhan, Lulusan AAL Angkatan XVI (1970), Korps Marinir

Teman seangkatan mantan KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh saat di AAL ini tergabung dalam Pasukan Marinir 6 yang ditugaskan di Timor-Timur. Kapten Mar Paulus Edward Dauhan gugur ketika terjadi kontak senjata pada tanggal 6 Juni 1977.

Lettu Mar Jusman Puger, Lulusan AAL Angkatan XVIII (1972), Korps Marinir

Lettu Mar Jusman Puger ditugaskan di Timor-Timur bersama Pasukan Marinir 5 dan bertugas sebagai Komandan Peleton Kompi D. Lettu Mar Jusman Puger gugur pada tanggal 26 Juli 1976.

Lettu Mar FX. Supramono, Lulusan AAL Angkatan XIX (1973), Korps Marinir

Lettu Mar FX. Supramono merupakan mantan kadet AAL yang ketika masa awal Operasi Seroja ditugaskan di Timor-Timur bersama Pasukan Marinir 1 yang inti kekuatannya berasal dari Batalyon 5 Marinir Surabaya. Lettu Mar FX. Supramono termasuk pasukan awal yang masuk ke kota Dili pada tanggal 7 Desember 1975, saat itu ia bertugas sebagai Komandan peleton Infanteri Kompi G. Ia gugur saat  mengamankan wilayah simpang tiga tibar yang tidak jauh dari kota Dili pada tanggal 8 Januari 1976. Untuk menghormati jasa-jasanya maka namanya diabadikan menjadi nama lapangan tembak FX. Supramono Bumi Marinir Karang Pilang, Surabaya.

Lettu Mar Widjajadi, Lulusan AAL Angkatan XIX (1973), Korps Marinir

Teman seangkatan Lettu Mar FX. Supramono ini ditugaskan di Timor-Timur bersama Pasukan Marinir 8 dan bertugas sebagai Komandan Kompi D. Lettu Mar Widjajadi selanjutnya disertakan dalam Operasi Bedah Marinir 77 di Sektor Selatan. Namun dalam perkembangannya operasi ini tidak berjalan dengan baik karena kurangnya perencanaan mengingat medan operasi yang begitu berat di sekitar Gunung Matabean sehingga menimbulkan korban di pihak Pasukan Marinir 8. Akibat beratnya medan operasi maka  ia dan pasukannya sebanyak satu peleton justru hilang dan hingga saat ini tidak diketemukan. 

Mayor Laut (T) Heddy Kurniadi, Lulusan AAL Angkatan XXI (1975), Korps Teknik 

Mayor Laut (T) Heddy Kurniadi berasal dari Satudarma/Armatim yang gugur pada tahun 1987 di Timor-Timur.

Lettu Laut (P) Toto Sukarwiyanto, Lulusan AAL Angkatan XXVII (1982), Korps Pelaut
Lettu Laut (P) Toto Sukarwiyanto berasal dari Satudarma/Armatim yang gugur pada tahun 1987 di Timor-Timur.

Letda Mar I Made Suria Yadnya & Letda Mar Macruf Mahasein, Lulusan AAL Angkatan XXIX (1984), Korps Marinir

Kedua mantan kadet AAL seangkatan ini ditugaskan di Timor-Timur dan tergabung dalam Satuan Tugas Pasopati yang diberangatkan pada bulan Oktober 1985 yang inti kekuatannya berasal dari Yonif 1 Marinir.  Letda Mar I Made Suria Yadnya bertugas sebagai Komandan peleton I Kompi B Letda Mar Macruf Mahasein  bertugas sebagai Komandan Peleton II Kompi A.  Pada tanggal 20 Desember 1985 terjadi penghadangan yang dilakukan oleh pihak musuh yang menyebabkan gugurnya 11 anggota Satgas Pasopati termasuk kedua mantan kadet AAL angkatan XXIX ini berikut persenjataan mereka yang dirampas oleh musuh.

Mayor Mar Edianto Abbas, Lulusan AAL Angkatan XXXI (1986), Korps Marinir

Pria asli daerah Aceh ini ditugaskan di tanah kelahirannya dalam rangka operasi pemulihan keamanan sebaga Komandan Satuan Tugas Rencong Sakti XI yang berintikan pasukan dari Yonif 3 Marinir Surabaya pada tanggal 30 Juli 1998. Mayor Mar Edianto Abbas gugur saat ia sedang menengahi kasus yang menimpa anggotanya saat bertugas di wilayah Aceh Utara namun karena adanya hasutan dari anggota GAM maka terjadilah penyekapan terhadap Mayor Mar Edianto Abbas sampai akhirnya ia dibunuh. Setelah dilakukan pencarian akhirnya jasad  Mayor Mar Edianto Abbas ditemukan dan selanjutnya dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Letda Mar Karno, Lulusan AAL Angkatan XLVII (2001), Korps Marinir

Pria asli Wonogiri ini ditugaskan di Aceh saat wilayah di ujung barat Indonesia ini sedang diberlakukan darurat militer. Saat itu ia tergabung dalam Detasemen Rajawali IV dan Letda Mar Karno berasal dari Batalyon V Marinir. Pada tanggal 9 Juni 2003, ia dan pasukannya terlibat kontak tembak dengan GAM di sekitar Alue Papen, Peusangan Bireun ketika iring-iringan kendaraannya ditembak oleh GAM. Ia saat itu bertugas sebagai danton, namun dalam kontak tembak tersebut ia tertembak dan gugur bersama lima pasukannya dan jasadnya kemudian dimakamkan di Wonogiri tepatnya di TMP Wonogiri.
Nama Kapten Mar T.T. Marpaung dan Lettu Mar Jusman Puger terpatri di Monumen Seroja-Cilangkap
Sumber:
- 60 tahun pengabdian Korps Marinir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Ksatria Lembah Tidar yang gugur di Timor-Timur

Ketika masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Timor-Timur merupakan provinsi temuda atau Provinsi ke-27 NKRI. Namun selama hampir 23 tahun bergabung dengan Indonesia, provinsi ini selalu bergejolak dengan munculnya gerakan perlawanan yang oleh pemerintah saat itu dikatakan sebagai Gerakan Pengacau Kemanan (GPK). Munculnya gerakan perlawanan ini sudah ada semenjak Timor-Timur bergabung ke dalam bingkai NKRI pada tahun 1975 namun integrasi wilayah ini oleh sebagian rakyat Timor-Timur saat itu tidak diinginkan sehingga memunculkan perlawanan terhadap kedudukan pemerintah Indonesia di Timor-Timur.  ABRI (TNI-POLRI sekarang) sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan Negara selanjutnya ditugaskan untuk meredam berbagai macam gerakan perlawanan yang timbul saat itu, salah satunya dengan cara membuat komando militer dan juga mengirimkan pasukan dari berbagai macam daerah di Indonesia ke wilayah tersebut.
Komando teritorial di wilayah Timor-Timur saat itu ialah Koman…

Kemaritiman di Indonesia Dahulu dan Kini

Oleh: M. Alfian Nugraha Fauzi

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”
Penggalan lirik lagu tersebut mungkin tidak asing bagi kita, lirik yang menggambarkan betapa hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa penjelajah dan berhasil mengarungi samudera. Patut diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari belasan ribu pulau serta memiliki lautan yang luas, Indonesia sudah sepatutnya memfokuskan diri dalam bidang kemaritiman. Namun kata “Maritim” seolah tenggelam dibawah bayang-bayang kata “Agraris” yang terlanjur melekat di ingatan banyak orang di Indonesia. Arti kata “Maritim” sendiri berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia yaitu berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Merujuk kepada arti kata maritim tersebut maka tidak dapat dipungkiri semua aktifitas pelayaran dan perdagangan di laut pada masa lalu pernah dilakukan…

Keberhasilan WNI Asal Timor-Timur di Indonesia

Timor-Timur memang sudah memisahkan diri dari NKRI pada tahun 1999 setelah sebelumnya diadakan Jajak Pendapat oleh PBB yang dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan. Provinsi ini lebih memilih untuk berpisah setelah berintegrasi dengan NKRI selama 23 tahun. Daerah ini resmi menjadi sebuah Negara yang berdaulat pada tahun 2002 dengan nama Timor Leste. Lepasnya provinsi ke-27NKRI ini sebenarnya sangat disayangkan karena pengorbanan yang telah dilakukan selama wilayah ini masih bergabung dengan NKRI. Dengan lepasnya wilayah ini menyebabkan banyak eksodus warga Timor-Timur baik pendatang maupun penduduk asli ke wilayah Indonesia terutama ke wilayah Nusa Tenggara Timur.  Tidak sedikit penduduk asli Timor-Timur yang kemudian tetap menjadi WNI dan tinggal di sekitar wilayah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kini setelah lima belas tahun meninggalkan tanah kelahiran mereka, kehidupan WNI asal Timor-Timur sebagian besar masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pula yang masih…