Langsung ke konten utama

Komando Resort Militer 164/Wiradharma Dili



 
Logo Korem 164/Wiradharma

Ketika masih bergabung dengan Republik Indonesia dan menjadi provinsi ke-27, wilayah Timor-Timur dikenal sebagai daerah “operasi militer” sejak berintegrasi tahun 1976 hingga berpisah pada tahun 1999. Jika dilihat dari segi keamanan Timor-Timur merupakan daerah yang rawan sehingga TNI-POLRI (ABRI saat itu) bertugas menjaga keamanan dan pertahanan di wilayah tersebut terutama dari gangguan Gerakan Pengacau kemananan (GPK), untuk itulah ABRI menempatkan pasukannya baik organik maupun non organik. Pasukan organik di wilayah Timor-Timur  terdiri dari satuan territorial dan tempur. Satuan territorial yang dibentuk di wilayah Timor-Timur yaitu Komando Resort Militer 164/Wiradharma (Korem 164/Wiradharma) yang berpusat di Dili, satuan ini membawahi satuan dibawahnya baik Kodim maupun Koramil termasuk satuan tempur  yaitu Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti yang berpusat di Dili dan Batalyon Infanteri 745/Sampada Yudha Bhakti yang berpusat di Lospalos.
Korem 164/Wiradharma merupakan satuan territorial yang dibentuk sebagai komando pertahanan di wilayah Timor-Timur. Komando ini sendiri menginduk kepada Komando daerah Militer IX/Udayana (Kodam IX/Udayana) yang berpusat di Bali. Korem 164/Wiradharma dibentuk pada tanggal 26 Maret 1979 setelah Timor-Timur berintegrasi dengan Republik Indonesia. Selama berintegrasi dengan Indonesia, Korem kebanggan TNI-AD ini selalu berada dalam keadaan siap tempur mengingat wilayah teritorialnya merupakan daerah operasi militer.
Sebagai satuan yang berada di daerah rawan maka tidaklah heran para komandan yang pernah bertugas di Korem 164/Wiradharma banyak yang kelak menduduki jabatan tinggi di lingkungan TNI-AD. Namun prestasi dan kecemerlangan korem kebanggan TNI-AD ini harus berakhir ketika Timor-Timur harus berpisah dari Indonesia pada tahun 1999. 

Daftar Komandan Korem 164/Wiradharma dari masa ke masa:
Kol Inf Adolf Sahala Rajagukguk 1979-1982
Kol Inf A.P. Kalangi 1982-1983
Kol Inf Purwanto 1983
Kol Inf Rudjito 1983-1984
Kol Inf Rahardjo 1984-1985
Kol Inf Yunus Yosfiah 1985-1987
Kol Inf Mochammad Ma’ruf 1987-1989
Kol Inf Rudolf Samuel Warrouw 1989-1990
Kol Inf I Ketut Wardhana 1990-1991
Kol Inf Johanes Palsaka Sepang 1991-1992
Kol Inf Dunidja 1992-1993
Kol Inf Suntoro 1993
Kol Inf Johny Lumintang 1993-1994
Kol Inf Kiki Syahnakri 1994-1995
Kol Inf Mahidin Simbolon 1995-1997
Kol Inf Salamat Sidabutar 1997-1998
Kol Inf Tono Suratman 1998-1999
Kol Inf M. Noer Muis 199-2000

Daftar Kodim dibawah Korem 164/Wiradharma:
Kodim 1627/Dili
Kodim 1628/Baucau
Kodim 1629/Los Palos
Kodim 1630/Viqueque
Kodim 1631/Manatuto
Kodim 1632/Aileu
Kodim 1633/Ainaro
Kodim 1634/Manufahi
Kodim 1635/Bobonaro
Kodim 1636/Maliana
Kodim 1637/Ermera
Kodim 1638/Liquiça
Kodim 1639/Ambeno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Ksatria Lembah Tidar yang gugur di Timor-Timur

Ketika masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Timor-Timur merupakan provinsi temuda atau Provinsi ke-27 NKRI. Namun selama hampir 23 tahun bergabung dengan Indonesia, provinsi ini selalu bergejolak dengan munculnya gerakan perlawanan yang oleh pemerintah saat itu dikatakan sebagai Gerakan Pengacau Kemanan (GPK). Munculnya gerakan perlawanan ini sudah ada semenjak Timor-Timur bergabung ke dalam bingkai NKRI pada tahun 1975 namun integrasi wilayah ini oleh sebagian rakyat Timor-Timur saat itu tidak diinginkan sehingga memunculkan perlawanan terhadap kedudukan pemerintah Indonesia di Timor-Timur.  ABRI (TNI-POLRI sekarang) sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan Negara selanjutnya ditugaskan untuk meredam berbagai macam gerakan perlawanan yang timbul saat itu, salah satunya dengan cara membuat komando militer dan juga mengirimkan pasukan dari berbagai macam daerah di Indonesia ke wilayah tersebut.
Komando teritorial di wilayah Timor-Timur saat itu ialah Koman…

Kemaritiman di Indonesia Dahulu dan Kini

Oleh: M. Alfian Nugraha Fauzi

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”
Penggalan lirik lagu tersebut mungkin tidak asing bagi kita, lirik yang menggambarkan betapa hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa penjelajah dan berhasil mengarungi samudera. Patut diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari belasan ribu pulau serta memiliki lautan yang luas, Indonesia sudah sepatutnya memfokuskan diri dalam bidang kemaritiman. Namun kata “Maritim” seolah tenggelam dibawah bayang-bayang kata “Agraris” yang terlanjur melekat di ingatan banyak orang di Indonesia. Arti kata “Maritim” sendiri berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia yaitu berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Merujuk kepada arti kata maritim tersebut maka tidak dapat dipungkiri semua aktifitas pelayaran dan perdagangan di laut pada masa lalu pernah dilakukan…

Keberhasilan WNI Asal Timor-Timur di Indonesia

Timor-Timur memang sudah memisahkan diri dari NKRI pada tahun 1999 setelah sebelumnya diadakan Jajak Pendapat oleh PBB yang dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan. Provinsi ini lebih memilih untuk berpisah setelah berintegrasi dengan NKRI selama 23 tahun. Daerah ini resmi menjadi sebuah Negara yang berdaulat pada tahun 2002 dengan nama Timor Leste. Lepasnya provinsi ke-27NKRI ini sebenarnya sangat disayangkan karena pengorbanan yang telah dilakukan selama wilayah ini masih bergabung dengan NKRI. Dengan lepasnya wilayah ini menyebabkan banyak eksodus warga Timor-Timur baik pendatang maupun penduduk asli ke wilayah Indonesia terutama ke wilayah Nusa Tenggara Timur.  Tidak sedikit penduduk asli Timor-Timur yang kemudian tetap menjadi WNI dan tinggal di sekitar wilayah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kini setelah lima belas tahun meninggalkan tanah kelahiran mereka, kehidupan WNI asal Timor-Timur sebagian besar masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pula yang masih…