Langsung ke konten utama

Dunia Blog


Salam Kenal..!!

Pertama kali terjun di dunia Blog ini, saya sudah menerbitkan satu tulisan saya tentang Perjalanan ke Bojongkokosan di Sukabumi. Namun saya merasa ada yang kurang dalam blog saya ini karena saya belum memperkenalkan diri saya secara lebih lanjut kepada kalian semua, hehehe… (sok penting banget yah). Baiklah sekarang saya akan memperkenalkan diri saya yang sebenarnya.

Nama saya adalah Muhamad Alfian Nugraha Fauzi, nama yang terbilang cukup panjang bahkan teman-teman mengatakan kepada saya “kenapa  namamu panjang? karena kamu lahir di atas kereta api” hehehe… (ada-ada saja mereka), tapi sebenarnya cukup panggil nama saya Alfian saja. Saya lahir di sebuah kota di bagian timur Jawa Barat tepatnya di Tasikmalaya di kampung nenek saya 23 tahun yang lalu. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan semuanya adalah laki-laki.. yah mirip keluarga Ahmad Dhani gitu deh, hehehe.. 

Setelah lahir saya pun dibawa oleh orang tua saya ke Jakarta dan empat bulan kemudian saya dibawa lagi ke kota Dili, Timor-Timur (Sekarang Timor Leste). Disinilah sebenarnya awal dari pengalaman hidup saya yang selalu berpindah-pindah.  Di Timor-Timur saya tinggal selama 10 tahun, tepatnya di wilayah Kampung Alor, Pantai Kelapa dan terakhir di Tasitolu. Saya pun sempat bersekolah hingga kelas 4 SD di SDN 7 Dili (sekarang Escola Primeira no5 Dili) kami sekeluarga meninggalkan Timor-Timur ketika diadakannya Jajak Pendapat yang dimenangkan oleh kelompok pro kemerdekaan. Ada rasa sedih begitu meninggalkan Timor-Timur karena memang sudah terjadi suatu ikatan batin yang begitu kuat dengan daerah ini.

Setelah itu saya bersekolah di Bogor tepatnya di SDN 2 Pabuaran yang berada di kampung bapak saya. Hanya sampai cawu 1 kemudian saya bersekolah lagi di Tangerang  tepatnya di SDN 4 Sarakan. Di Tangerang lah kemudian saya tinggal hingga kini. Ketika masuk SMP saya bersekolah di SMPN 1 Sepatan begitupun ketika SMA saya bersekolah di SMAN 1 Sepatan. Pada tahun 2008 saat lulus SMA saya mengikuti tes Snmptn, ternyata saya pun masuk PTN pilihan saya yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tepatnya di jurusan sejarah. 

Saat kuliah di UNJ untuk pertama kalinya saya harus hidup terpisah dengan orang tua.. biasalah hidup jadi anak kost, hehehe… kost pertama saya dan terakhir letaknya di Pulo Gadung dekat dengan terminal.. jadi pagi kuliah malam jadi anak terminal, hehehe.. kuliah di UNJ berarti saya bertemu dengan teman yang baru pula, jalinan persahabatan pun masih kami jalin hingga kini walaupun saya sudah lulus kuliah. Kemudian diajari oleh dosen-dosen yang mantap pula, hehe.. Intinya.. Selama berkuliah di UNJ ini saya mendapatkan begitu banyak hal yang buat saya pribadi sangat bermanfaat dan juga berkesan, diantaranya dalam hal akademis dan juga persahabatan. Pokoknya pengalaman selama berkuliah di UNJ adalah sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan. Dan kini angin membawa saya untuk menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di daerah Sangiang Tangerang

Itulah sekelumit perkenalan diri saya, sekian dan terima kasih..

Komentar

  1. Mas Alfian, saya mau tanya
    Klo dari sepatan ke UNJ naik angkutan apa aja ya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Ksatria Lembah Tidar yang gugur di Timor-Timur

Ketika masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Timor-Timur merupakan provinsi temuda atau Provinsi ke-27 NKRI. Namun selama hampir 23 tahun bergabung dengan Indonesia, provinsi ini selalu bergejolak dengan munculnya gerakan perlawanan yang oleh pemerintah saat itu dikatakan sebagai Gerakan Pengacau Kemanan (GPK). Munculnya gerakan perlawanan ini sudah ada semenjak Timor-Timur bergabung ke dalam bingkai NKRI pada tahun 1975 namun integrasi wilayah ini oleh sebagian rakyat Timor-Timur saat itu tidak diinginkan sehingga memunculkan perlawanan terhadap kedudukan pemerintah Indonesia di Timor-Timur.  ABRI (TNI-POLRI sekarang) sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan Negara selanjutnya ditugaskan untuk meredam berbagai macam gerakan perlawanan yang timbul saat itu, salah satunya dengan cara membuat komando militer dan juga mengirimkan pasukan dari berbagai macam daerah di Indonesia ke wilayah tersebut.
Komando teritorial di wilayah Timor-Timur saat itu ialah Koman…

Kemaritiman di Indonesia Dahulu dan Kini

Oleh: M. Alfian Nugraha Fauzi

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”
Penggalan lirik lagu tersebut mungkin tidak asing bagi kita, lirik yang menggambarkan betapa hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa penjelajah dan berhasil mengarungi samudera. Patut diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari belasan ribu pulau serta memiliki lautan yang luas, Indonesia sudah sepatutnya memfokuskan diri dalam bidang kemaritiman. Namun kata “Maritim” seolah tenggelam dibawah bayang-bayang kata “Agraris” yang terlanjur melekat di ingatan banyak orang di Indonesia. Arti kata “Maritim” sendiri berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia yaitu berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Merujuk kepada arti kata maritim tersebut maka tidak dapat dipungkiri semua aktifitas pelayaran dan perdagangan di laut pada masa lalu pernah dilakukan…

Keberhasilan WNI Asal Timor-Timur di Indonesia

Timor-Timur memang sudah memisahkan diri dari NKRI pada tahun 1999 setelah sebelumnya diadakan Jajak Pendapat oleh PBB yang dimenangkan oleh kelompok Pro Kemerdekaan. Provinsi ini lebih memilih untuk berpisah setelah berintegrasi dengan NKRI selama 23 tahun. Daerah ini resmi menjadi sebuah Negara yang berdaulat pada tahun 2002 dengan nama Timor Leste. Lepasnya provinsi ke-27NKRI ini sebenarnya sangat disayangkan karena pengorbanan yang telah dilakukan selama wilayah ini masih bergabung dengan NKRI. Dengan lepasnya wilayah ini menyebabkan banyak eksodus warga Timor-Timur baik pendatang maupun penduduk asli ke wilayah Indonesia terutama ke wilayah Nusa Tenggara Timur.  Tidak sedikit penduduk asli Timor-Timur yang kemudian tetap menjadi WNI dan tinggal di sekitar wilayah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kini setelah lima belas tahun meninggalkan tanah kelahiran mereka, kehidupan WNI asal Timor-Timur sebagian besar masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pula yang masih…